Berita Emas

Tren 2026 harus segera diolah dengan ilmu

2026 Wajib Mengelola Rezeki dengan Ilmu, Bukan Sekadar Mengikuti Tren yang Berkembang

Di era digital yang serba cepat ini, tren finansial datang silih berganti. Adanya era sekarang membuat investasi kripto sedang naik daun, dengan influencer yang ikutramai mempromosikan instrumen investasi “cuan cepat”, lusa muncul skema baru yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda dalam waktu singkat. Media sosial seaakan dipenuhi cerita sukses orang-orang yang mendadak kaya, membuat banyak orang tergoda untuk ikut-ikutan tanpa pemahaman yang memadai. Namun, di tengah hiruk-pikuk tren yang terus berganti, prinsip syariah mengajarkan satu hal yang fundamental: keputusan tentang rezeki harus berlandaskan ilmu, bukan sekadar ikut ramai. Platform seperti Nunomics.id hadir sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai syariah dengan kemudahan teknologi modern, membuktikan bahwa pengelolaan keuangan berbasis ilmu dan prinsip Islam bukan hanya wacana, tetapi dapat dipraktikkan dalam keseharian. Ketika FOMO Menguasai Keputusan Finansial Fear of Missing Out (FOMO) telah menjadi fenomena psikologis yang mendorong banyak orang membuat keputusan finansial secara impulsif. Ketika melihat teman atau tetangga mendapat untung besar dari suatu investasi, naluri alamiah kita adalah ingin segera ikut serta. Pola pikir “nanti ketinggalan” atau “semua orang sudah dapat untung, masa saya tidak?” menjadi pendorong utama keputusan yang seringkali kurang matang. Dalam konteks keuangan syariah, pendekatan semacam ini bertentangan dengan prinsip dasar pengelolaan harta. Islam mengajarkan bahwa setiap langkah dalam mengelola rezeki harus didasari pemahaman yang mendalam, kehati-hatian, dan kesesuaian dengan nilai-nilai syariah. Bukan karena “sedang viral” atau “semua orang sedang melakukannya.” Nunomics.id memahami fenomena ini dengan menawarkan solusi yang berbeda: tabungan emas fisik yang memiliki dasar syariah yang kuat. Berbeda dengan tren investasi yang datang dan pergi, emas telah menjadi penyimpan nilai yang terbukti selama ribuan tahun, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW: “Simpanlah sebahagian daripada hartamu untuk kebaikan masa depan kamu, karena itu jauh lebih baik bagimu” (HR Bukhari). Literasi Syariah sebagai Fondasi Menurut data yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan Indonesia, literasi keuangan syariah mengalami lonjakan signifikan dari 9% pada tahun 2022 menjadi 39% pada tahun 2023 (Otoritas Jasa Keuangan, 2022, 2024). Angka ini menunjukkan kesadaran masyarakat Indonesia yang semakin meningkat terhadap pentingnya memahami prinsip-prinsip keuangan syariah. Namun, angka 39% juga mengindikasikan bahwa masih ada mayoritas masyarakat yang belum sepenuhnya memahami bagaimana mengelola keuangan sesuai prinsip syariah. Kesenjangan ini menjadi celah bagi berbagai praktik yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, yang seringkali dibungkus dengan label “syariah” namun substansinya jauh dari prinsip kehati-hatian dan transparansi yang diajarkan Islam. Literasi syariah bukan hanya tentang mengetahui mana yang halal dan haram, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap transaksi keuangan. Mengapa Islam melarang riba? Karena sistem bunga menciptakan ketidakadilan dan eksploitasi. Mengapa gharar (ketidakpastian berlebihan) dilarang? Karena spekulasi yang berlebihan dapat merugikan salah satu pihak dan menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Di sinilah peran Nunomics.id menjadi relevan. Sebagai platform yang dibentuk atas inisiatif generasi muda Nahdlatul Ulama, Nunomics.id tidak hanya menyediakan layanan finansial, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi digital yang edukatif (Nunomics, 2024). Setiap produk dirancang dengan transparansi penuh tentang mekanisme syariahnya, termasuk memastikan emas yang ditabung benar-benar ada fisiknya di gudang (vault), terhindar dari gharar, dan dijalankan sesuai syariat Islam. Resiliensi Keuangan dalam Dinamika Pasar Dunia keuangan modern penuh dengan fluktuasi. Pasar dapat berubah dengan cepat—apa yang menguntungkan hari ini bisa menjadi kerugian besok. Dalam menghadapi dinamika seperti ini, resiliensi keuangan menjadi kunci (Gresen, 2024). Prinsip keuangan syariah sebenarnya telah mengajarkan konsep resiliensi jauh sebelum istilah ini populer dalam dunia finansial modern (Gresen, 2024). Diversifikasi aset, pengelolaan risiko yang bijaksana, dan larangan terhadap praktik spekulatif adalah bentuk-bentuk perlindungan yang telah diatur dalam syariah untuk memastikan kestabilan ekonomi jangka panjang. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang seringkali fokus pada memaksimalkan keuntungan dalam jangka pendek, keuangan syariah menekankan keberlanjutan dan keadilan. Profit sharing, bukan fixed interest, memastikan bahwa risiko dan keuntungan dibagi secara adil antara semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. Nunomics.id menerapkan prinsip resiliensi ini melalui model tabungan emas fisik. Emas dikenal sebagai instrumen yang mampu melindungi nilai harta dari gerusan inflasi yang terus mengancam dari tahun ke tahun. Ketika nilai mata uang Rupiah fluktuatif atau melemah, emas cenderung mempertahankan nilainya, bahkan meningkat. Ini bukan spekulasi, tetapi track record historis yang telah teruji selama berabad-abad. Nunomics.id: Mewujudkan Prinsip Syariah dalam Ekosistem Digital Dalam lanskap finansial syariah Indonesia yang terus berkembang, Nunomics.id hadir sebagai manifestasi konkret dari penerapan prinsip “mengelola rezeki dengan ilmu, bukan sekadar ikut tren.” Platform ini dibangun dengan visi yang jelas: “Ummat Berdaya, Pesantren Berdaya, NKRI Berdaya Saing.” Bukan sekadar slogan, visi ini tercermin dalam setiap fitur dan layanan yang ditawarkan. Tabungan Emas Fisik yang Teregulasi dan Tersegregasi Nunomics.id menawarkan layanan tabungan emas fisik yang telah mendapat rekomendasi dari BAPPEBTI (Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi) dan Kementerian Perdagangan (Nunomics, 2024). Ini bukan emas digital yang hanya berupa catatan elektronik, tetapi emas fisik nyata yang tersimpan di gudang (vault) dengan sistem yang terregulasi dan tersegregasi. Sistem tersegregasi memastikan bahwa emas yang Anda tabung benar-benar milik Anda, bukan dicampur dengan aset lembaga atau nasabah lain. Ini adalah implementasi langsung dari prinsip syariah yang menghindari gharar (ketidakjelasan kepemilikan) dan memastikan amanah dalam pengelolaan harta. Keamanan Tingkat Tinggi dan Berasuransi Dalam dunia digital yang penuh risiko keamanan, Nunomics.id menerapkan standar keamanan tingkat tinggi dengan registrasi yang terhubung langsung ke bank. Seluruh aset emas yang disimpan juga dilindungi dengan asuransi, memberikan lapisan perlindungan tambahan bagi pengguna. Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi modern dapat digunakan untuk memperkuat, bukan menggantikan, prinsip-prinsip syariah. Amanah bukan hanya konsep spiritual, tetapi diterjemahkan menjadi sistem keamanan yang konkret dan terukur. Ekosistem Syariah yang Komprehensif Nunomics.id bukan hanya platform tabungan emas. Ia adalah ekosistem ekonomi digital syariah yang komprehensif dengan berbagai fitur: Powered by Lembaga Terpercaya Nunomics.id didukung oleh berbagai lembaga terpercaya dalam ekosistem keuangan Indonesia: Jakarta Futures Exchange (JFX), Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Kustodian Madani Indonesia (KMI), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan ABI Komoditi Berjangka. Kemitraan dengan lembaga-lembaga ini bukan hanya memberikan legitimasi legal, tetapi juga memastikan bahwa operasional Nunomics.id mengikuti standar industri tertinggi. GoldDrips: Investasi Mikro yang Konsisten Salah satu inovasi terbaru dari Nunomics.id adalah program GoldDrips, yang memungkinkan pengguna untuk menabung emas secara konsisten dengan nominal kecil mulai dari Rp100.000, bahkan mendapatkan cashback menarik. Program ini menjawab tantangan banyak orang yang merasa investasi emas memerlukan modal besar. Dengan GoldDrips,

Komoditas Emas dalam Syariah: Sejak 25 Tahun Lalu Emas Bukan Sekedar Komoditas, Tapi Alat Nilai

Di tengah maraknya tren investasi emas yang dipromosikan sebagai komoditas kekinian, ada satu hal mendasar yang sering terlupakan: dalam perspektif syariah, emas sejatinya bukan sekadar produk investasi atau komoditas perdagangan. Emas adalah alat ukur nilai, standar yang telah ditetapkan sejak masa Rasulullah saw. hingga kini. Banyak orang melihat emas hanya dari kacamata pasar—naik turun harga, spekulasi, profit jangka pendek. Padahal, fungsi utama emas dalam fikih jauh lebih fundamental daripada sekadar aset yang diperjualbelikan. Emas adalah miqyas, tolok ukur nilai yang stabil dalam sistem ekonomi Islam. Emas sebagai Standar Nilai dalam Fikih Dalam literatur fikih klasik, emas dan perak disebut sebagai tsaman haqiqi atau harga sejati. Keduanya bukan sekadar benda berharga, tetapi standar nilai yang digunakan untuk mengukur harga barang dan jasa lainnya. Ini berbeda dengan uang kertas atau mata uang lain yang nilai intrinsiknya bisa berubah sesuai kebijakan moneter atau kondisi ekonomi. Para ulama sepakat bahwa emas memiliki posisi khusus dalam muamalah. Ia digunakan sebagai patokan dalam nisab zakat, mahar pernikahan, diyat, hingga standar hukum berbagai transaksi. Mengapa? Karena nilainya relatif stabil dan diakui secara universal sejak zaman Nabi Muhammad saw. Bahkan dalam sejarah, mata uang pada sebagian besar abad ke-19 hingga Perang Dunia I didukung oleh emas, sebagaimana terlihat dalam standar emas global yang menjadi indikator nilai yang dapat diandalkan. Ketika kita melihat emas sebagai standar nilai, bukan sebagai komoditas spekulatif, maka seluruh transaksi yang melibatkan emas menjadi lebih jelas dan adil. Tidak ada lagi permainan harga yang membingungkan, tidak ada manipulasi pasar, tidak ada unsur gharar atau ketidakpastian yang merugikan salah satu pihak. Transaksi Emas: Jernih dari Gharar Salah satu hikmah terbesar dari memahami emas sebagai alat nilai adalah kemurnian transaksi. Dalam fikih, jual beli emas memiliki ketentuan yang sangat ketat: harus yadan bi yadin (tunai), harus mitslan bi mitslin (sejenis dan setara) jika menukar emas dengan emas, dan harus dilakukan di tempat (majlis akad). Kenapa begitu ketat? Karena syariah ingin menjaga agar transaksi emas tidak menjadi ajang spekulasi atau riba. Emas bukan untuk dipermainkan dengan skema utang-piutang berjangka atau leverage. Emas adalah alat tukar yang harus dijaga kesuciannya dari unsur-unsur yang merusak keadilan ekonomi. Berdasarkan hadis ‘Ubadah bin al-Samit RA, Rasulullah saw bersabda: “(Ditukar) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam, sama (jumlahnya) untuk yang sama, setara (kuantitasnya) untuk setara, tangan (dikirim) untuk tangan. Jika jenis-jenis ini berbeda, juallah sesuka Anda dan jangan menunda penyerahannya.” (Bulugh al-Maram, Kitab 7, Hadis 833). Ini menegaskan bahwa transaksi emas harus bebas dari riba al-nasiah (riba karena penundaan) dan harus dilakukan secara tunai. Di sinilah kita melihat bagaimana syariah memberi fondasi yang kokoh. Bukan sekadar aturan ritual, tapi sistem yang melindungi hak semua pihak dalam bertransaksi. Ketika emas diperlakukan sesuai prinsip syariah, maka tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang dieksploitasi. Bahkan dalam konteks digital sekarang, Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Kebangsaan Malaysia telah membolehkan penyerahan emas melalui akun digital sebagai bentuk penyerahan yang sah, asalkan transfer kepemilikan terjadi tanpa penundaan. Bukan Tren Hijrah, Tapi Fondasi Sejak Awal Belakangan ini, banyak yang menyebut kembali ke sistem berbasis emas sebagai bagian dari “hijrah finansial”. Seolah-olah ini adalah hal baru, sebuah gerakan modern untuk meninggalkan sistem konvensional. Padahal, ini bukan tren. Ini fondasi. Sejak awal Islam turun, emas sudah menjadi bagian integral dari sistem ekonomi umat. Dinar dan dirham—koin emas dan perak—adalah mata uang resmi yang digunakan dalam berbagai transaksi pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Sistem ini bertahan ratusan tahun karena memang dibangun di atas prinsip keadilan dan stabilitas. Jadi, ketika kita bicara tentang kembali ke standar emas, kita bukan sedang mengikuti tren. Kita sedang kembali kepada prinsip yang sudah teruji selama empat belas abad. Prinsip yang tidak bergantung pada gejolak politik, inflasi mata uang fiat, atau kebijakan bank sentral yang sewaktu-waktu bisa berubah. Tantangan Investasi Emas Digital: Pelajaran dari Kasus Quantum Metal Seiring perkembangan teknologi, investasi emas kini telah berevolusi ke dalam bentuk digital. Platform seperti Quantum Metal Sdn. Bhd. (QMSB) menawarkan kemudahan investasi emas secara online. Namun, kemudahan ini harus disertai kehati-hatian ekstra. Studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa platform investasi emas digital menghadapi masalah serius terkait kepatuhan syariah dan hukum. Salah satu isu krusial adalah penundaan pembayaran kepada investor yang melanggar prinsip taqabudh (pemilikan segera). Penundaan ini tidak hanya berpotensi menimbulkan riba al-nasiah, tetapi juga merusak kepercayaan investor. Lebih mengkhawatirkan lagi, ada platform yang tidak terdaftar di Bank Negara Malaysia (BNM) atau Suruhanjaya Sekuriti (SC), yang merupakan syarat wajib untuk beroperasi dalam bisnis perdagangan emas di Malaysia. Ketiadaan registrasi ini bukan hanya melanggar regulasi, tetapi juga mempertanyakan legitimasi operasional dari perspektif syariah. Sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 59 yang memerintahkan ketaatan kepada ulil amri (pemerintah yang sah), maka mengabaikan regulasi pemerintah termasuk pelanggaran syariah. Kasus seperti ini mengingatkan kita pada skandal Genneva Malaysia Sdn Bhd yang merugikan sekitar 35,000 investor dengan kerugian mencapai RM450 juta. Genneva yang mengklaim sebagai perusahaan patuh syariah ternyata melanggar Akta Institusi Perbankan dan Kewangan 1989 (BAFIA) serta terlibat dalam pencucian uang. Dari sini kita belajar: tidak semua yang mengklaim “syariah-compliant” benar-benar memenuhi standar syariah. Transparansi, kejelasan kontrak, penyerahan fisik yang jelas, dan registrasi resmi adalah hal-hal non-negotiable dalam investasi emas syariah yang sesungguhnya. Kesadaran Generasi Muda: Antara Peluang dan Tantangan Riset terbaru di Terengganu, Malaysia menunjukkan fakta menarik: generasi muda Muslim memiliki tingkat kesadaran yang moderat terhadap investasi emas syariah. Dari 120 responden berusia 18-28 tahun, mayoritas adalah mahasiswa dengan pendapatan di bawah RM500 per bulan. Temuan ini mengungkapkan dua sisi yang kontras. Di satu sisi, 91% responden menyadari perbedaan antara investasi emas syariah dan konvensional. Di sisi lain, hanya 45% yang aktif membaca isu-isu terkini tentang investasi emas syariah. Yang lebih mengkhawatirkan, 26% responden masih tidak yakin atau tidak mengetahui bahwa investasi emas konvensional yang melanggar syariah adalah haram. Gap pengetahuan ini berbahaya. Ketika seseorang tahu bahwa emas itu baik sebagai investasi alternatif (89% setuju), tapi tidak memahami detail syaratnya, mereka rentan terjebak dalam skema investasi yang tidak sesuai syariah. Inilah yang terjadi pada ribuan korban Genneva—mereka tertarik pada label “syariah” tanpa memahami substansinya. Generasi muda juga menghadapi kendala finansial. Dengan

Geopolitik menyebakan orang kembali melirik emas

Ketika Dunia Gelisah Karena Tragedi Geopolitik, 55% Orang Berpotensi Kembali ke Emas

Ada pola yang selalu berulang sepanjang sejarah manusia: ketika dunia berguncang karena geopolitik yang terjadi, orang mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang. Bukan janji-janji di atas kertas. Bukan angka digital di layar komputer. Melainkan sesuatu yang sudah teruji ribuan tahun—emas. Tahun 2025 membuktikan kembali pola ini. Harga emas menembus rekor demi rekor, melonjak lebih dari 50% sejak awal tahun, bahkan mencapai puncak di atas $4.300 per ons. Ini bukan sekadar tren pasar biasa. Ini adalah sinyal ketakutan global yang terterjemahkan dalam logam mulia. Perang, Geopolitik, dan Kehilangan Kepercayaan Mengapa emas? Karena ketika dunia tidak menentu, kepercayaan pada uang kertas mulai goyah. Konflik Rusia-Ukraina terus berlangsung, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dan persaingan antara Amerika Serikat dengan China semakin tajam. Semua ini menciptakan apa yang disebut ekonom sebagai “lingkungan kaya katalis” untuk emas. Yang membuat situasi 2025 berbeda dari masa lalu adalah intensitas pembelian oleh bank sentral. Bank sentral global telah membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun sejak 2022, laju tercepat dalam sejarah modern. China, India, Turki, Kazakhstan—negara-negara ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Mereka sedang membangun benteng pertahanan ekonomi. Pembekuan cadangan mata uang Rusia oleh Barat setelah invasi Ukraina pada 2022 menjadi momen pencerahan bagi banyak negara. Mereka menyadari: jika cadangan devisa Anda bisa dibekukan dengan satu ketukan tombol, apakah itu benar-benar milik Anda? Emas tidak bisa dibekukan. Tidak bisa dihapus dari sistem. Emas adalah nyata, fisik, dan berada di bawah kontrol penuh pemiliknya. Flight to Safety: Pelarian ke Zona Aman Istilah “flight to safety” dalam bahasa ekonomi berarti perpindahan modal dari aset berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman. Ketika ketidakpastian meningkat, investor menjual saham dan obligasi berisiko, lalu membeli emas. Ini bukan spekulasi—ini survival instinct yang terstruktur dalam pasar keuangan. Yang menarik dari tahun 2025, bahkan obligasi pemerintah Amerika Serikat—yang selama lebih dari seabad dianggap sebagai aset teraman di dunia—mengalami penurunan permintaan pada bulan April. Di saat yang sama, emas justru mengalami aliran dana masuk yang luar biasa besar. Artinya? Kepercayaan terhadap sistem moneter konvensional sedang terkikis. Emas mencatat kenaikan tahunan terkuat sejak 1979, tahun ketika dunia juga bergulat dengan inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik yang serupa. Sejarah berulang, tapi dengan aktor yang berbeda. Investor Institusi Ikut Masuk Bukan hanya negara. Investor institusi besar—dana pensiun, hedge funds, asuransi—juga meningkatkan alokasi mereka ke emas. Total kepemilikan ETF emas global naik sebesar 397 ton pada semester pertama 2025, level tertinggi sejak Agustus 2022. Ini bukan uang kecil—ini triliunan dolar yang mencari perlindungan. J.P. Morgan memperkirakan harga emas akan mencapai rata-rata $3.675 per ons pada kuartal keempat 2025 dan naik mendekati $4.000 pada pertengahan 2026. Proyeksi ini bukan spekulasi semata, melainkan berdasarkan pola permintaan struktural dari bank sentral dan investor yang terus berlanjut. Yang unik dari siklus kenaikan emas kali ini: bank sentral membeli emas tanpa mempedulikan harga. Mereka tidak trading untuk profit jangka pendek. Mereka membeli untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Ini menciptakan “lantai harga” struktural—harga tidak akan jatuh terlalu dalam karena ada pembeli tetap yang tidak pernah berhenti. Dollar Melemah, Emas Menguat Ada hubungan terbalik antara dolar Amerika dan emas. Ketika dolar melemah, emas biasanya menguat. Tahun 2025, dolar mengalami penurunan terburuk sejak 1973. Ini bukan kebetulan. Mayoritas responden survei World Gold Council (73%) melihat kepemilikan dolar di cadangan global akan menurun secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan. Ini adalah pergeseran monumental. Selama puluhan tahun, dolar adalah raja mata uang dunia. Kini, tahta itu mulai goyah. Negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar—terutama yang berada di luar aliansi geopolitik Barat—memilih emas sebagai alternatif. Antara 2020 dan 2025, alokasi emas di cadangan bank sentral negara-negara ini meningkat dari rata-rata 8% menjadi hampir 15%. Ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Ini adalah upaya “de-dollarisasi”—mengurangi dominasi dolar dalam sistem moneter global. Dan emas adalah instrumen utama dalam proses tersebut. Inflasi yang Tak Kunjung Reda Faktor lain yang mendorong emas adalah inflasi yang persisten. Inflasi di negara-negara maju diperkirakan akan tetap di atas 2% hingga 2026 dan 2027. Ketika uang kertas kehilangan daya belinya, emas mempertahankan nilainya. Emas tidak menghasilkan bunga atau dividen. Tapi itulah kelebihannya—tidak ada janji yang bisa diingkari. Tidak ada risiko default. Tidak ada pemerintah yang bisa mencetak lebih banyak emas untuk menyelesaikan masalah fiskalnya. Pasokan emas hanya tumbuh 1-2% per tahun melalui penambangan, menciptakan kelangkaan alami yang menjaga daya beli dalam jangka panjang. Di Saat Goyah, Apa Peganganmu? Dalam dunia yang semakin tidak stabil—di mana perang bisa pecah tanpa peringatan, sanksi ekonomi bisa dikenakan dalam semalam, dan nilai mata uang bisa jatuh dalam hitungan jam—pertanyaan ini menjadi semakin relevan: apa yang benar-benar bisa Anda pegang? Emas bukan jaminan keuntungan cepat. Harganya bisa berfluktuasi. Tapi selama ribuan tahun, emas telah membuktikan dirinya sebagai penyimpan nilai yang andal di tengah kekacauan. Ketika sistem-sistem yang dibangun manusia runtuh, emas tetap berdiri. World Gold Council memperkirakan bahwa dalam kondisi ekonomi stagflasi atau resesi, emas bisa naik tambahan 10-15% pada paruh kedua 2025. Tapi bahkan tanpa proyeksi optimis itu, satu hal sudah jelas: dalam era ketidakpastian, emas bukan lagi sekadar aset. Emas adalah benteng terakhir. Jadi ketika dunia berguncang—dan sepertinya akan terus begitu—orang kembali ke emas. Bukan karena spekulasi. Bukan karena tren. Tapi karena sejarah telah mengajarkan mereka: ketika semua yang lain gagal, emas tetap bertahan. Nunomics: Solusi Emas Syariah untuk Indonesia Di tengah kegamangan global yang mendorong orang kembali ke emas, muncul pertanyaan praktis: bagaimana masyarakat Indonesia—khususnya muslim—bisa mengakses emas dengan cara yang mudah dan sesuai syariah? Nunomics hadir sebagai jawaban. Platform jaringan ekonomi digital syariah ini dibentuk atas inisiatif generasi pejuang Nahdlatul Ulama untuk meningkatkan kualitas hidup muslim Indonesia. Nunomics memungkinkan pengguna menabung emas fisik secara digital yang tersimpan di vault, terhindar dari gharar dan sesuai syariat Islam. Platform ini berizin resmi BAPPEBTI dan diawasi Kementerian Perdagangan. Yang membedakan Nunomics adalah integrasinya dengan kehidupan beragama muslim: tabungan haji dan umrah, sedekah digital melalui LAZIS terpercaya, hingga pembayaran tagihan dalam satu ekosistem. Dengan modal mulai Rp100.000, siapa pun bisa memulai—membawa akses emas ke tangan masyarakat luas. Di era ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang mendorong flight to safety, Nunomics menjembatani kebutuhan perlindungan aset dengan nilai-nilai keislaman. Ketika bank sentral

Aset Digital Seperi Crypto dan Emas Digital

3 Contoh Aset pada Dunia Digital seperti Crypto, AI, dan Emas: Apakah Masa Depan Hybrid akan Terlaksanakan?

Dunia Digital Tetap Butuh Aset Riil Saat teknologi berkembang pesat, kita seringkali terjebak dalam euforia inovasi dunia digitaldimulai dari blockchain yang merevolusi keuangan, hingga kecerdasan buatan yang mengubah cara kerja industri. Namun, di tengah gelombang digitalisasi yang masif ini, sebuah pertanyaan fundamental muncul: apakah dunia yang serba digital ini benar-benar bisa melepaskan diri dari aset riil? Jawabannya mengejutkan: tidak. Bahkan, konvergensi antara cryptocurrency, AI, dan emas justru menciptakan ekosistem hybrid yang lebih kuat—sebuah masa depan di mana teknologi dan prinsip investasi tradisional berjalan beriringan. Tokenisasi Emas: Jembatan Antara Dua Dunia Selama ribuan tahun, emas telah menjadi simbol keamanan dan penyimpan nilai. Namun, kepemilikan emas fisik selalu memiliki tantangan: biaya penyimpanan yang tinggi, likuiditas terbatas, dan hambatan geografis. Tokenisasi emas hadir sebagai solusi revolusioner yang menggabungkan keandalan emas dengan efisiensi blockchain. Tokenisasi emas adalah proses mengubah emas fisik menjadi token digital yang dapat diperdagangkan 24/7 di platform blockchain. Setiap token mewakili kepemilikan sejumlah emas tertentu yang disimpan di brankas teregulasi. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan likuiditas, tetapi juga membuka akses kepada investor kecil melalui kepemilikan fraksional. Data dari World Gold Council menunjukkan bahwa permintaan emas dalam bentuk ETF yang didukung emas melonjak 23% pada tahun 2020, dengan arus masuk bersih mencapai 877 ton senilai lebih dari $48 miliar. Tren ini membuktikan bahwa investor semakin tertarik pada versi digital dari aset riil. Platform seperti Tether Gold telah menunjukkan potensi besar dengan kapitalisasi pasar yang melampaui $500 juta pada tahun 2021. Transparansi blockchain memastikan bahwa setiap token benar-benar didukung oleh emas fisik, memberikan kepercayaan yang tidak mungkin dicapai di pasar tradisional. Bitcoin Miner: Dari Crypto ke Infrastruktur AI Sementara tokenisasi emas menghubungkan aset fisik dengan dunia digital, para penambang Bitcoin mengalami transformasi yang tak kalah menarik. Infrastruktur yang awalnya dibangun untuk menambang cryptocurrency kini menjadi aset berharga dalam era kecerdasan buatan. Frank Holmes dari Hive Digital Technologies menjelaskan bahwa membangun pusat data dari awal membutuhkan waktu tiga tahun. Namun, mengubah pusat data penambangan Bitcoin menjadi pusat data AI hanya memerlukan sembilan bulan. Efisiensi ini menempatkan Bitcoin miner dalam posisi strategis untuk memanfaatkan ledakan permintaan komputasi AI. Kasus TeraWulf menjadi bukti nyata: sahamnya melonjak hampir 60% dalam satu hari setelah mendapatkan kesepakatan senilai $3,2 miliar dengan Alphabet. Investor institusional seperti Citadel Securities mulai mengakuisisi saham perusahaan penambangan crypto yang beralih ke AI, seperti kepemilikan 5,4% mereka di Hive Digital. Yang menarik, valuasi Bitcoin miner masih jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan pusat data konvensional. Holmes mencatat bahwa Bitcoin miner seperti Hive diperdagangkan kurang dari 2 kali EBITDA, sementara ETF pusat data diperdagangkan pada 20 kali EBITDA. Kesenjangan valuasi ini menciptakan peluang investasi yang signifikan. Kevin O’Leary dari Shark Tank menganalogikannya dengan masa demam emas: “Jika saya harus mulai berinvestasi dalam emas 300 tahun yang lalu, saya akan berinvestasi dalam emas, penambang emas, perusahaan yang membuat jeans, pick, dan sekop. Dan saya akan melakukannya jauh lebih baik daripada hanya memiliki emas.” Konvergensi: Mengapa Dunia Digital Butuh Aset Riil Pola yang muncul dari kedua fenomena ini sangat jelas: teknologi digital tidak menggantikan aset riil, melainkan meningkatkan nilainya. Emas tetap menjadi penyimpan nilai, tetapi kini dapat diperdagangkan dengan likuiditas cryptocurrency. Infrastruktur penambangan Bitcoin tetap bernilai, bahkan lebih berharga ketika dapat mendukung komputasi AI. Ini bukan paradoks—ini adalah evolusi logis. Dunia digital dibangun di atas fondasi fisik: pusat data membutuhkan listrik dan infrastruktur, stablecoin membutuhkan aset pendukung, dan investor tetap mencari safe haven di tengah volatilitas pasar. Bank sentral Rusia bahkan mempertimbangkan tokenisasi cadangan emas sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS. Ini menunjukkan bahwa bahkan institusi besar menyadari nilai dari menggabungkan aset riil dengan teknologi digital. Pasar AI sendiri membuktikan bahwa hasil nyata lebih penting dari hype. OpenAI beralih dari menghasilkan $0 menjadi $1 miliar dalam pendapatan bulanan dalam kurang dari dua tahun—bukti bahwa AI bukan sekadar gelembung spekulatif seperti era dotcom, melainkan menghasilkan nilai ekonomi riil. Prinsip yang Bertahan Di tengah semua inovasi teknologi, beberapa prinsip investasi fundamental tetap relevan: Diversifikasi tetap krusial. Kombinasi crypto, saham perusahaan AI, dan aset berbasis emas menciptakan portofolio yang lebih resilient. Aset riil tetap penting. Bahkan dalam bentuk digital, aset yang didukung oleh sesuatu yang nyata—entah emas fisik atau infrastruktur pusat data—memberikan kepercayaan lebih tinggi kepada investor. Likuiditas adalah kunci. Tokenisasi dan digitalisasi meningkatkan likuiditas aset tradisional, membuat pasar lebih efisien dan inklusif. Transparansi teknologi membangun kepercayaan. Blockchain memberikan tingkat transparansi dan akuntabilitas yang tidak mungkin dicapai sistem tradisional. Apakah NUNOMICS.ID Bisa Bersaing untuk Hal Itu Kedepannya? Menariknya, Indonesia memiliki pemain lokal yang sudah bergerak di persimpangan antara emas fisik dan teknologi digital: NUNOMICS.ID. Platform ini lahir dari inisiatif generasi Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di dunia dengan lebih dari 100 juta anggota dan pengikut. NUNOMICS meluncurkan aplikasinya secara resmi pada 14 November 2024 sebagai platform keuangan yang mematuhi prinsip syariah. Yang membedakan NUNOMICS adalah fokusnya pada emas fisik—bukan sekadar emas digital. Platform ini menawarkan transaksi emas fisik dengan kemurnian 999,9 yang disimpan di vault dan diawasi langsung oleh Bappebti, Jakarta Futures Exchange (JFX), dan Kliring Berjangka Indonesia (KBI). Berbeda dengan cryptocurrency konvensional yang pernah dinyatakan haram oleh sebagian ulama NU pada Oktober 2021 karena dianggap spekulatif dan mengandung unsur gharar (ketidakpastian), NUNOMICS mengambil pendekatan yang lebih diterima secara syariah dengan berbasis pada aset riil. Platform ini bekerja sama dengan Kinesis Monetary Indonesia dan PT Pos Indonesia untuk pengelolaan penyimpanan fisik emas. Keunggulan Kompetitif NUNOMICS: NUNOMICS memiliki beberapa keunggulan strategis untuk bersaing di pasar hybrid crypto-AI-emas: Legitimasi Syariah. Dengan dukungan NU dan kepatuhan penuh terhadap prinsip syariah, NUNOMICS memiliki akses ke pasar Muslim Indonesia yang sangat besar—negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Ini memberikan keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki platform global. Regulasi Lokal. Diawasi oleh Bappebti dan lembaga regulasi lokal lainnya, NUNOMICS beroperasi dalam kerangka hukum yang jelas di Indonesia. Ini mengurangi risiko regulatori yang sering menghantui platform cryptocurrency global. Aksesibilitas. Transaksi bisa dimulai dari 0,01 gram emas dengan menggunakan harga pasar dunia yang dinamis. Ini membuka akses ke segmen pasar yang lebih luas, termasuk investor kecil yang selama ini terhalang oleh harga emas yang mahal. Ekosistem Terintegrasi. NUNOMICS tidak hanya menawarkan investasi emas, tetapi juga layanan turunan seperti

Fiat vs Emas

Fiat vs Emas: 2 Cara Melihat Waktu yang Berharga

Bayangkan sebuah jam pasir. Butiran pasir yang jatuh melambangkan waktu yang berlalu, tak bisa diulang, tak bisa ditawar. Dalam hidup kita, waktu adalah amanah paling berharga. Begitu pula dengan nilai uang yang kita simpan—seharusnya menjaga waktu kerja kita, keringat kita, pengorbanan kita. Tapi kenyataannya? Uang kertas terus menurun, sementara emas tetap berdiri tegak menjaga nilainya. Ketika Uang Kertas Kehilangan Maknanya Tahun 1971 menjadi titik balik besar dalam sejarah ekonomi dunia. Amerika Serikat secara resmi meninggalkan sistem standar emas dan beralih sepenuhnya ke sistem uang fiat—uang yang nilainya tidak lagi dijamin oleh cadangan emas, melainkan hanya berdasarkan kepercayaan dan keputusan pemerintah. Sejak saat itu, tidak ada satu pun negara di dunia yang masih mengikat mata uangnya dengan emas. Dalam sistem fiat, dolar hanyalah unit akuntansi. Uang kertas tidak lagi dapat ditukar dengan emas atau aset lainnya. Uang beredar karena praktis digunakan untuk transaksi dan ditetapkan sebagai alat pembayaran yang sah. Tapi inilah masalahnya: tanpa jangkar yang kokoh, nilai uang fiat terus terkikis oleh inflasi. Selama lima tahun terakhir, dolar AS kehilangan 25% daya belinya—yang dulunya senilai satu dolar kini hanya setara dengan 75 sen. Lebih dramatis lagi, Euro telah kehilangan hampir 90% nilainya terhadap emas dalam 25 tahun terakhir. Bayangkan, uang yang Anda simpan di bank perlahan-lahan kehilangan kemampuannya membeli barang yang sama. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah waktu hidup kita yang dicuri secara diam-diam. Waktu yang kita habiskan bekerja, menabung, berharap masa depan lebih baik—tapi sistem moneter justru menggerogoti nilai simpanan kita. Emas: Penjaga Waktu yang Setia Sementara uang kertas merosot, emas menceritakan kisah yang berbeda. Selama lebih dari satu abad, emas mempertahankan daya belinya, mengamankan jumlah barang dan jasa yang sama seperti seratus tahun yang lalu. Sebuah koin emas dari tahun 1933, jika masih Anda pegang hari ini, tetap memiliki nilai yang setara untuk membeli kebutuhan hidup. J.P. Morgan, seorang finansir Amerika yang legendaris, pernah berkata dengan tegas: “Gold is money; everything else is credit.” Emas adalah uang; segala yang lain hanyalah kredit. Pernyataan ini kini bergema lebih keras dari sebelumnya. Harga emas baru-baru ini mencapai sekitar $2.700 per ons, menandai rekor tertinggi dalam sejarah. Kenaikan ini bukan kebetulan—ini adalah cerminan dari ketidakpercayaan yang tumbuh terhadap mata uang fiat di tengah inflasi global yang meningkat. Dunia Bergeser, Negara-negara Menimbun Emas Pergeseran ini bukan hanya dialami individu. Negara-negara besar di dunia sedang diam-diam mengubah strategi ekonomi mereka. Bank-bank sentral di Asia, dari China hingga Arab Saudi, secara diam-diam menimbun emas, menandai pergeseran strategis. China khususnya telah mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS sambil mengakumulasi emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar. Rusia, di bawah tekanan sanksi ekonomi, justru meningkatkan cadangan emasnya hingga lebih dari 32,5% dari total cadangan devisa. Emas menjadi perisai ekonomi mereka melawan volatilitas mata uang dan sanksi internasional. Blok BRICS, yang mewakili 45% populasi dunia, bertujuan mengurangi ketergantungan pada dolar. Dari 193 negara, 159 telah bergabung dalam sistem penyelesaian BRICS yang baru. Ini bukan lagi teori konspirasi—ini adalah realitas geopolitik yang sedang terjadi di depan mata kita. Utang yang Menumpuk, Kepercayaan yang Runtuh Mengapa negara-negara berbondong-bondong mencari alternatif dari dolar? Salah satu alasan utamanya adalah utang yang menumpuk hingga tingkat yang mengkhawatirkan. Utang publik AS telah melonjak menjadi $35,7 triliun, atau 122% dari PDB. Yang lebih mencengangkan: Amerika Serikat membutuhkan lebih dari 200 tahun untuk mengakumulasi utang senilai $12 triliun, namun hanya butuh lima tahun untuk menggandakan angka tersebut. Di Inggris, tingkat utang mencapai 100% dari PDB—tertinggi sejak tahun 1960-an. Bedanya, utang masa kini bukan karena perang, melainkan cerminan ketidakseimbangan struktural antara pengeluaran publik dan pendapatan pajak. IMF memperingatkan bahwa utang global akan melampaui $100 triliun tahun ini—angka yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Di AS, hanya untuk membayar bunga utang saja menghabiskan $1,2 triliun per tahun—sekitar 23% dari seluruh pendapatan pajak, tarif, dan biaya yang dikumpulkan. Ini adalah lingkaran setan: utang memicu pencetakan uang, pencetakan uang memicu inflasi, inflasi menghapus nilai simpanan rakyat. Emas Bukan Hanya untuk Disimpan Keunggulan emas bukan hanya sebagai penyimpan nilai. Sifat unik emas membuatnya vital di berbagai industri: menghidupkan teknologi dengan konduktivitasnya, membantu kesehatan dengan deteksi penyakit dan implan tahan bakteri, serta meningkatkan kedirgantaraan dengan menstabilkan suhu dan memantulkan sinar berbahaya. Artinya, permintaan terhadap emas tidak hanya datang dari investor yang mencari perlindungan nilai, tetapi juga dari industri-industri strategis yang terus berkembang. Ini membuat emas memiliki nilai intrinsik yang tidak dimiliki oleh uang kertas. Peringatan Penting: Paper Gold vs Physical Gold Namun ada satu peringatan krusial bagi siapa pun yang ingin berinvestasi emas. Tahukah Anda bahwa ada 131 ons emas kertas untuk setiap ons emas fisik yang sesungguhnya? Jika Anda berinvestasi, pastikan itu dalam bentuk emas fisik, bukan “emas kertas” yang hanya berupa sertifikat atau derivatif. Sistem keuangan modern telah menciptakan begitu banyak klaim atas emas yang sebenarnya tidak ada secara fisik. Jika suatu saat terjadi rush atau permintaan besar-besaran untuk menebus emas fisik, sistem ini bisa runtuh seperti rumah kartu. Pelajaran dari Sejarah Sejarah menunjukkan pola yang jelas: mata uang fiat cenderung terdevaluasi seiring waktu. Ekonom Austria Friedrich Hayek pernah mencatat dengan tajam: “The gold standard has been destroyed chiefly because it was an obstacle to inflation”—standar emas dihancurkan terutama karena menjadi penghalang bagi inflasi. Pemerintah membutuhkan fleksibilitas untuk mencetak uang guna membiayai program-program mereka, membayar utang, atau merangsang ekonomi. Standar emas membatasi fleksibilitas ini. Maka standar emas pun ditinggalkan. Peter Schiff, seorang ekonom dan kritikus vokal sistem fiat, berargumen bahwa cacat bawaan dalam mata uang fiat akan mengarah pada pergeseran tak terhindarkan menuju uang yang dijamin dengan aset. Kita sedang menyaksikan pergeseran ini terjadi di depan mata kita. Waktu Itu Amanah—Dijaga, Bukan Dibiarkan Kembali ke metafora jam pasir kita di awal. Setiap butir pasir yang jatuh adalah waktu yang berlalu. Waktu yang kita gunakan untuk bekerja, berkeringat, berjuang menghidupi keluarga. Nilai dari waktu itu seharusnya dijaga, bukan dibiarkan terkikis oleh sistem yang secara sistematis mengurangi daya beli uang kita. Emas menawarkan sesuatu yang tidak bisa ditawarkan uang kertas: stabilitas nilai lintas generasi. Sementara mata uang fiat turun seperti pasir yang jatuh, emas tetap berdiri tegak, menjaga nilai waktu dan kerja keras kita. Ini bukan ajakan untuk meninggalkan sepenuhnya

Bank Sentral Mendesak Pengumpulan Emas

75% Bank Sentral Dunia Mendesak Mengumpulkan Emas: Apa yang Mereka Tahu dan yang Kita Tidak?

Ketika negara-negara besar mulai menimbun emas, mungkin sudah saatnya kita bertanya: sinyal apa yang sebenarnya mereka tangkap? Pendahuluan Sementara publik sibuk memantau fluktuasi mata uang, inflasi, dan naik-turunnya pasar saham, sebuah tren senyap tengah berlangsung di balik dinding baja brankas bank sentral dunia: mereka membeli dan mempertahankan emas dalam jumlah besar. Fenomena ini bukan kebetulan. Ia adalah strategi. Lebih tepatnya—strategi yang mencerminkan pandangan mendalam tentang arah stabilitas ekonomi global. Fenomena Kepemilikan Emas oleh Bank Sentral Pola Pasif yang Bertahan Puluhan Tahun Penelitian dari National Bureau of Economic Research (NBER) menemukan pola menarik sepanjang 1979–2010. Bank sentral negara maju mempertahankan cadangan emas mereka secara pasif. Naik atau turun, harga emas nyaris tidak mengubah kebijakan mereka. Terlepas dari fluktuasi pasar, sebagian besar bank sentral memilih untuk diam. Mereka tetap memegang emas, seakan tahu sesuatu yang tidak diumumkan ke publik. Sinkronisasi Penjualan yang Jarang Dibicarakan Yang lebih menarik: saat mereka menjual emas, mereka melakukannya secara serempak.Jika setiap bank sentral benar-benar independen, seharusnya penjualan dilakukan secara bertahap untuk meredam dampak pasar. Namun sejarah mencatat: aksi penjualan emas mereka jarang sekali tidak terkoordinasi. Emas Sebagai Simbol Kekuatan Global Korelasi Emas dan Status Kekuatan Dunia Studi Aizenman & Inoue menunjukkan bahwa intensitas kepemilikan emas berkorelasi erat dengan kekuatan global suatu negara.Mantan kekaisaran, negara dengan ekonomi raksasa, atau negara pemegang mata uang kunci cenderung menimbun emas. Mereka memandang emas bukan sebagai aset biasa—melainkan tanda status ekonomi. Pemilik Emas Terbesar Dunia (November 2011) Data ini bukan sekadar angka; ini mencerminkan filosofi bahwa emas adalah simbol kekuatan dan kredibilitas ekonomi. Mengapa Bank Sentral Menimbun Emas? Emas sebagai Safe Haven Meski return emas sering kalah dari obligasi pemerintah AS, emas tetap menjadi aset perlindungan nilai paling konsisten selama turbulensi global. Saat krisis finansial 2008–2009 memuncak, emas berfungsi sebagai benteng nilai—terutama bagi negara maju. Loss Aversion dan Politik Pelaporan Banyak bank sentral tidak melaporkan nilai emas dalam statistik cadangan resmi.Alasannya bersifat politis: Keengganan melaporkan ini sebenarnya memperkuat satu pesan: mereka ingin memegang emas besar-besaran—tanpa menarik perhatian. Kebangkitan Emerging Markets dalam Akumulasi Emas China: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar Pada 2011, China memegang 1.054,1 ton emas.Dengan cadangan devisa terbesar di dunia, China menggunakan emas untuk mendiversifikasi eksposurnya terhadap dolar AS. India: Menegaskan Diri sebagai Kekuatan Ekonomi India mengejutkan dunia ketika membeli 200 ton emas dari IMF pada 2009—sebuah deklarasi ekonomi yang kuat.Pada 2011, mereka memiliki 557,7 ton emas. Rusia: Akumulasi Bertahap tapi Konsisten Rusia terus meningkatkan kepemilikan emasnya, mencapai 873,6 ton pada 2011.Semua ini sejalan dengan strategi mereka membangun otonomi ekonomi dari Barat. Studi Kasus: Portugal dan Warisan Sejarah Portugal memiliki cadangan emas besar yang diperoleh selama Perang Dunia II. Namun ironisnya, emas tersebut tak dapat dijual untuk mengurangi utang negara akibat berbagai batasan institusional dan politik. Kasus ini menunjukkan bahwa kepemilikan emas tidak murni persoalan ekonomi—ada jejak sejarah dan politik di sana. Central Bank Gold Agreement: Koordinasi Global Pada 1999, lima belas bank sentral Eropa menciptakan Central Bank Gold Agreement (CBGA) untuk menghentikan penjualan emas yang tidak terkoordinasi dan menekan pasar. Mereka sepakat: Yang menarik: penjualan sebenarnya jauh di bawah batas tersebut.Bank sentral tetap memilih menahan emas—bahkan ketika diizinkan menjualnya. Temuan Empiris: Apa Kata Data? Penelitian dengan data panel 22 negara maju (1979–2010) menemukan: Dengan kata lain: semakin kuat suatu negara, semakin besar kemungkinan ia mengunci emasnya. Implikasi bagi Investor Individu Jika bank sentral—institusi dengan analis terbaik dan akses informasi paling murni—tetap memegang emas, maka ada pesan penting untuk kita: Aplikasi Praktis Tanpa harus meniru bank sentral, kita bisa menerapkan prinsip berikut: Kesimpulan Emas tetap memegang posisi unik dalam kebijakan bank sentral: disimpan secara pasif, dilaporkan minimal, namun dipertahankan secara gigih. Ia adalah simbol kekuatan ekonomi, penanda stabilitas, dan benteng nilai di tengah ketidakpastian global. Jika negara dengan ekonomi triliunan dolar masih merasa perlu menjaga emas sebagai pelindung nilai, pertanyaan reflektifnya sederhana: Bagaimana dengan kita sebagai individu? Emas mungkin bukan aset dengan return terbesar, tetapi seperti yang dipahami bank sentral selama berabad-abad: Ia adalah penjaga nilai ketika yang lain runtuh. NUNOMICS.id — Solusi Modern di Tengah Strategi Kuno Bank Sentral Jika bank sentral dunia menaruh kepercayaan pada emas sebagai pelindung nilai, NUNOMICS.id hadir sebagai cara praktis dan modern agar individu bisa melakukan hal serupa — tanpa harus menyimpan emas fisik di brankas sendiri. Apa Itu NUNOMICS.id? Fitur Utama NUNOMICS.id Kenapa NUNOMICS.id Relevan dalam Konteks Strategi Bank Sentral Bukan hanya investasi—tetapi perisai kekayaan. Referensi Aizenman, J., & Inoue, K. (2013). Central Banks and Gold Puzzles. NBER Working Paper No. 17894.Data meliputi periode 1979–2010 dengan mencakup 22 negara maju dan beberapa emerging markets besar seperti China, India, dan Rusia. https://www.ecb.europa.eu/press/other-publications/ire/focus/html/ecb.irebox202506_01~f93400a4aa.en.html

Sharia Gold Standard

Sharia Gold Standard: 70% Akan Bertambah Perdebatan Lagi?

Wacana Kembalinya Sistem Keuangan Berbasis Emas Syar’i Pernahkah Anda membayangkan sebuah dunia di mana uang memiliki nilai intrinsik yang stabil, tidak tergerus inflasi, dan mampu memberikan keadilan ekonomi bagi semua pihak? Bagi banyak pemikir ekonomi Islam kontemporer, jawaban atas pertanyaan ini terletak pada sebuah konsep yang telah terbukti bertahan selama lebih dari 13 abad: sistem dinar emas dan dirham perak, atau yang kini dikenal sebagai Sharia Gold Standard. Di tengah ketidakstabilan sistem keuangan global yang terus berulang—krisis demi krisis yang melanda dunia dengan interval yang semakin pendek—pertanyaan mengenai kemungkinan kembalinya sistem moneter berbasis emas syar’i bukan lagi sekadar nostalgia historis. Ia menjadi diskursus serius yang layak dikaji secara mendalam, baik dari perspektif ekonomi, syariah, maupun realitas implementasi di era modern. Jejak Emas dalam Sejarah Islam Untuk memahami esensi Sharia Gold Standard, kita perlu menengok ke belakang, ke masa kejayaan peradaban Islam. Sistem moneter berbasis emas dan perak bukanlah inovasi Islam, namun Islam memberikan legitimasi syar’i dan standarisasi yang jelas terhadap penggunaannya. Pada masa Rasulullah SAW, mata uang yang beredar adalah dinar emas Bizantium dan dirham perak Persia. Kedua mata uang ini kemudian diadopsi dan digunakan dalam berbagai ketentuan syariah, mulai dari perhitungan zakat, mahar, diyat (denda), hingga nisab kepemilikan harta. Rasulullah SAW sendiri bersabda: “Sistem timbangan dan takaran adalah sistem yang digunakan oleh penduduk Madinah.” Pernyataan ini menunjukkan pengakuan terhadap standar yang telah ada. Khalifah Umar bin Khattab kemudian menetapkan hubungan berat standar antara dinar dan dirham: 7 dinar harus setara (dalam berat) dengan 10 dirham. Standar ini kemudian diabadikan secara formal ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar dan dirham Islam pertama pada sekitar tahun 696 Masehi. Dinar Islam memiliki berat 4,25 gram emas murni (24 karat), sementara dirham memiliki berat 2,975 gram perak murni. Yang menarik, standar berat ini bukanlah angka sembarangan. Ia didasarkan pada butir jelai (habbah) sebagai satuan terkecil. Satu mithqal (dinar) setara dengan 72 butir jelai, sementara dirham setara dengan 50,4 butir jelai. Sistem metrik yang natural ini menunjukkan bagaimana Islam membangun fondasi ekonomi yang terukur dan dapat diverifikasi oleh siapa saja. Sistem dinar-dirham ini kemudian menjadi tulang punggung perdagangan internasional selama berabad-abad. Dari Andalusia di Barat hingga Asia Tenggara di Timur, dinar menjadi mata uang yang dihormati dan diterima secara universal. Stabilitas nilainya yang luar biasa tercermin dalam sebuah fakta mencengangkan: dengan 1 dinar pada masa Rasulullah SAW, seseorang dapat membeli seekor kambing. Pada tahun 2000-an, dengan nilai emas setara 1 dinar (sekitar 4,25 gram emas), seseorang masih dapat membeli seekor kambing. Inilah yang disebut sebagai stabilitas nilai riil lintas generasi. Runtuhnya Standar Emas Global Untuk memahami urgensi diskusi mengenai Sharia Gold Standard, kita perlu memahami bagaimana sistem moneter dunia berevolusi—atau dalam pandangan banyak ekonom Islam, berdeviasi—dari prinsip nilai intrinsik. Sistem bimetalik (emas dan perak) mendominasi perdagangan dunia hingga abad ke-20. Namun, Perang Dunia I mengubah segalanya. Negara-negara Eropa menangguhkan konvertibilitas mata uang mereka ke emas untuk membiayai perang. Setelah perang, muncul upaya kembali ke standar emas, namun tidak berlangsung lama. Titik balik terbesar terjadi pada 1944 dengan Bretton Woods Agreement. Sistem ini menetapkan bahwa semua mata uang akan dikaitkan dengan dolar AS, sementara dolar AS sendiri dapat ditukar dengan emas pada nilai tetap: $35 per troy ounce. Namun, sistem ini pun runtuh pada 15 Agustus 1971 ketika Presiden Richard Nixon secara sepihak mengumumkan penghentian konversi dolar ke emas—peristiwa yang dikenal sebagai “Nixon Shock”. Sejak 1971, dunia memasuki era fiat money secara penuh, di mana mata uang tidak lagi memiliki backing apapun kecuali kepercayaan pada otoritas penerbitnya. Uang kertas kini hanya selembar kertas yang nilainya ditentukan oleh kebijakan pemerintah dan bank sentral, bukan oleh nilai intrinsik logam mulia. Konsekuensinya? Dalam 50 tahun penggunaan fiat money (1971-2021), dunia mengalami setidaknya 8 kali krisis ekonomi besar. Bandingkan dengan 13 abad penggunaan standar emas dalam sejarah Islam, yang hanya tercatat mengalami satu krisis besar pada masa Dinasti Mamluk. Statistik ini menjadi argumen kuat bagi pendukung kembalinya sistem moneter berbasis emas. Anatomi Krisis: Mengapa Fiat Money Problematik? Untuk memahami mengapa banyak ekonom Islam mengkritik sistem fiat money, kita perlu membedah tiga pilar fundamental yang menjadi sumber masalahnya. Pertama: Riba dan Sistem Bunga Dalam sistem perbankan konvensional, uang diciptakan melalui mekanisme fractional reserve banking. Bank hanya perlu menyimpan sebagian kecil dari deposit (misalnya 10%) dan dapat meminjamkan sisanya dengan bunga. Sistem ini memiliki kelemahan mendasar: total uang yang harus dikembalikan (pokok + bunga) akan selalu lebih besar dari total uang yang beredar. Dalam terminologi matematika ekonomi, jika R adalah total kebutuhan uang (untuk membayar hutang + bunga) dan G adalah total jumlah uang beredar, maka dalam sistem bunga selalu berlaku R > G. Ini menciptakan situasi zero-sum game di mana seseorang harus gagal bayar agar yang lain bisa membayar hutangnya. Inilah yang disebut sebagai “default by design”—sistem yang secara inheren mendorong kegagalan bisnis. Syariah Islam melarang riba karena memahami dengan sangat baik konsekuensi destruktif dari sistem ini. Bunga menciptakan pengalihan kekayaan yang tidak adil dari sektor riil ke sektor finansial, dari peminjam ke pemberi pinjaman, tanpa adanya risk-sharing yang proporsional. Kedua: Pemisahan Sektor Moneter dari Sektor Riil Salah satu penyebab utama krisis keuangan berulang adalah pemisahan sektor moneter dari sektor riil. Dalam ekonomi konvensional modern, sebagian besar aktivitas keuangan terjadi di pasar derivatif, future trading, dan berbagai instrumen finansial yang tidak terkait dengan aset riil. Beberapa literatur menyebutkan bahwa jarak antara sektor riil dan sektor moneter mencapai 9 kali lipat—artinya, untuk setiap $1 aktivitas ekonomi riil (produksi barang dan jasa), terdapat $9 aktivitas di sektor finansial. Kondisi ini menciptakan bubble ekonomi yang mudah meledak. Ketika ekspektasi di pasar finansial tidak sesuai dengan kondisi ekonomi riil, terjadilah krisis seperti subprime mortgage 2008. Islam memiliki prinsip fundamental: “sektor moneter dan sektor riil harus terkait”. Dalam transaksi jual beli, uang dan barang (ma’qud ‘alaih) harus tersedia karena keduanya merupakan rukun yang wajib ada. Ini mengapa future trading dan margin trading yang tidak diikuti pengiriman barang dianggap tidak sah dalam fiqh muamalah. Ketiga: Inflasi dan Erosi Nilai Fiat money memiliki kelemahan struktural: nilainya terus tergerus oleh inflasi. Data menunjukkan bahwa dalam 40 tahun terakhir, rupiah mengalami penurunan daya beli sebesar 8%

Dunia berhenti mengguanakan dollar. BRICS, De-dollarisasi, dan Emas

Perubahan Tatanan Moneter Global pada 10 tahun mendatang: Antara De-Dollarisasi, BRICS, dan Pelarian ke Emas Bertambah Kuat

Selama hampir satu abad, dolar Amerika Serikat telah menjadi raja tanpa tanding dalam panggung ekonomi global. Mata uang ini menguasai hampir 90 persen transaksi valuta asing dan 48 persen pembayaran melalui sistem SWIFT. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fondasi dominasi dolar mulai berguncang. Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan berhenti mengandalkan dolar, melainkan seberapa cepat pergeseran ini akan terjadi—dan apa yang akan menggantikannya. Momentum De-Dollarisasi: Dari Retorika ke Realitas Istilah “de-dollarisasi” merujuk pada pengurangan signifikan penggunaan dolar AS dalam perdagangan global dan transaksi keuangan. Tren ini bukan sekadar wacana politik, tetapi sudah menjadi strategi konkret yang diterapkan oleh berbagai negara, terutama yang tergabung dalam blok BRICS—Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Perubahan geopolitik global mempercepat proses ini. Pencabutan akses Rusia dari sistem SWIFT setelah invasi ke Ukraina, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, serta kebijakan moneter Federal Reserve yang berdampak pada pasar global, semuanya mendorong negara-negara mencari alternatif dari sistem keuangan yang didominasi Barat. Negara-negara BRICS kini berusaha meningkatkan kemandirian finansial dan mengurangi kerentanan terhadap sanksi ekonomi AS. Langkah nyata sudah terlihat. Tiongkok dan Rusia kini melakukan sebagian besar perdagangan bilateral mereka menggunakan yuan dan rubel, sepenuhnya melewati dolar. Brasil dan Tiongkok menandatangani kesepakatan penyelesaian perdagangan yuan-real pada tahun 2023. India mulai membeli minyak Rusia menggunakan rupee. Bahkan lebih dari 95 persen perdagangan antara Rusia dan Iran pada tahun 2024 diselesaikan dalam rubel dan rial. Data menunjukkan bahwa pada Maret 2024, lebih dari setengah pembayaran Tiongkok (52,9 persen) diselesaikan dalam RMB, sementara pembayaran dalam dolar AS turun menjadi 42,8 persen. BRICS: Kekuatan Ekonomi yang Tidak Dapat Diabaikan Untuk memahami potensi de-dollarisasi, kita perlu memahami dahsyatnya kekuatan ekonomi BRICS. Pada tahun 2023, ekonomi BRICS secara kolektif menyumbang lebih dari 25 persen output ekonomi global dengan 42 persen populasi dunia. Antara tahun 1990 dan 2015, pangsa ekonomi BRICS dalam output global melonjak dari 5,85 persen menjadi 21,6 persen—transformasi yang luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Secara kolektif, BRICS mengendalikan sekitar 4 triliun dolar AS dalam cadangan devisa konsolidasi dan menarik sekitar 11 persen investasi asing langsung global. Proyeksi menunjukkan bahwa ekonomi BRICS berpotensi melampaui ekonomi G7 pada tahun 2050, menandakan pergeseran fundamental dalam pusat gravitasi ekonomi global dari Barat ke Timur dan Selatan. Ekspansi BRICS menambah momentum pada narasi de-dollarisasi. Pada Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab resmi bergabung, menjadikan blok ini BRICS-10. Indonesia menyusul sebagai anggota penuh pada Januari 2025. Perluasan ini bukan sekadar simbolis—ini merepresentasikan pergeseran serius dalam keseimbangan kekuatan ekonomi global. Institusi BRICS: Fondasi Integrasi Ekonomi Telah dibangun infrastruktur institusional yang solid untuk mendukung ambisi ekonominya. New Development Bank (NDB), yang didirikan pada tahun 2015, kini memiliki kapasitas pembiayaan sebesar 32,8 miliar dolar AS dan menyediakan bantuan keuangan untuk proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan, tidak hanya di negara-negara BRICS tetapi juga di ekonomi berkembang lainnya. Salah satu fitur distinktif NDB adalah pendekatannya dalam membiayai proyek menggunakan mata uang lokal. Pada tahun 2016, NDB mencairkan pinjaman perdananya senilai 811 juta dolar AS, dengan Brasil menerima 300 juta, Tiongkok 81 juta, India 250 juta, dan Afrika Selatan 180 juta dolar AS. Pendekatan pembiayaan dalam mata uang lokal ini tidak hanya mengurangi risiko nilai tukar tetapi juga memperkuat penggunaan mata uang BRICS—real Brasil, rubel Rusia, rupee India, renminbi Tiongkok, dan rand Afrika Selatan—dalam transaksi internasional, secara halus meletakkan dasar untuk kerja sama mata uang yang lebih besar di antara negara-negara anggota. Selain NDB, BRICS juga mendirikan Contingent Reserve Arrangement (CRA) dengan dana 100 miliar dolar AS, yang menyediakan mekanisme dukungan bersama untuk tekanan neraca pembayaran jangka pendek. Institusi-institusi ini menunjukkan komitmen serius BRICS terhadap stabilitas keuangan dan integrasi ekonomi yang lebih dalam. Realitas Mata Uang Bersama BRICS: Antara Ambisi dan Hambatan Di atas kertas, BRICS memiliki potensi besar untuk mengubah lanskap keuangan global melalui mata uang bersama. Pada KTT BRICS di Kazan, Oktober 2024, para anggota membahas pengembangan BRICS Pay, sistem pembayaran terdesentralisasi berbasis blockchain yang dirancang untuk menghubungkan sistem keuangan negara-negara anggota menggunakan mata uang digital bank sentral (CBDC). Namun, implementasi nyata jauh lebih kompleks daripada retorika. Pada KTT BRICS di Rio de Janeiro pada Juli 2025, tidak ada kemajuan konkret menuju de-dollarisasi yang serius. Deklarasi akhir tidak menyebut penciptaan mata uang bersama atau strategi terkoordinasi untuk mengurangi penggunaan dolar. Yang sebenarnya terjadi jauh lebih sederhana: penyelesaian sebagian perdagangan dalam mata uang lokal untuk mengurangi biaya dan mengurangi ketergantungan pada dolar untuk transaksi tertentu. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva sempat menjadi pendukung vokal mata uang bersama BRICS pada KTT 2023 dan 2024. Namun, setelah ancaman tarif 100-150 persen dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara BRICS yang mengejar de-dollarisasi, Lula secara resmi menghapus gagasan mata uang bersama dari agenda kepresidenan BRICS Brasil 2025. Bahkan Vladimir Putin, yang sebelumnya tampak mendukung prospek ini, telah meninggalkannya. Pernyataan India juga memperjelas posisinya. Menteri Luar Negeri S. Jaishankar menjelaskan, “De-dollarisasi bukan bagian dari agenda keuangan India.” India lebih memilih strategi “derisking” perdagangan melalui diversifikasi mitra dan sistem pembayaran alternatif, bukan kemerdekaan dari dolar per se. Teori Optimum Currency Area: Mengapa Mata Uang Bersama BRICS Sulit Terwujud Untuk memahami mengapa mata uang bersama BRICS menghadapi hambatan besar, kita perlu memahami teori Optimum Currency Area (OCA). Teori yang dipopulerkan oleh Robert Mundell pada tahun 1960-an ini menetapkan kriteria spesifik yang harus dipenuhi agar kelompok negara dapat mengadopsi mata uang bersama dengan sukses. Kriteria OCA meliputi: kesamaan struktur ekonomi, tingkat keterbukaan perdagangan yang tinggi, mobilitas faktor produksi, homogenitas preferensi kebijakan, dan mekanisme transfer fiskal. Ketika diterapkan pada BRICS, analisis menunjukkan kesenjangan signifikan dalam memenuhi kriteria-kriteria ini. Keragaman ekonomi BRICS sangat ekstrem—dari ekonomi berbasis komoditas seperti Rusia dan Afrika Selatan hingga ekonomi manufaktur dan jasa seperti Tiongkok dan India. Keragaman ini meluas ke indikator ekonomi seperti tingkat inflasi, pertumbuhan PDB, dan kebijakan fiskal, yang tidak tersinkronisasi di seluruh blok. Disparitas dalam tingkat perkembangan ekonomi, tingkat inflasi, dan disiplin fiskal di antara negara-negara BRICS menimbulkan hambatan signifikan terhadap realisasi mata uang bersama dalam waktu dekat. Studi empiris memperkuat temuan ini. Penelitian tahun 2019 yang meneliti Shanghai Cooperation Organization (yang mencakup beberapa anggota BRICS) menemukan respons asimetris bank sentral terhadap guncangan internal dan

Perjalanan Emas sebagai Mata uang : Pelajaran 4000 Tahun Lindungi Kekayaan yang tak pernah terinflasi

Ketika Babilonia mencetak koin emas pertama sekitar 600 SM, mereka tidak hanya menciptakan alat tukar, mereka memulai sebuah legasi yang akan bertahan lebih lama dari kerajaan mereka sendiri. Ribuan tahun kemudian, emas masih berdiri tegak, melewati kejatuhan imperium, revolusi ekonomi, dan transformasi digital yang mengubah wajah dunia. Apakah Perjalanan emas begitu berpengaruh terhadap inflasi? Perjalanan Singkat Emas Melintasi Peradaban Bayangkan tahun 1760 Sebelum Masehi—jauh sebelum teknologi digital atau bahkan sistem perbankan modern—Raja Hammurabi sedang menyusun sebuah dokumen monumental di Mesopotamia. Code of Hammurabi bukan sekadar kumpulan hukum, melainkan formalisasi pertama peran uang dalam struktur masyarakat. Ini adalah momen historis ketika manusia sepakat: ekonomi membutuhkan standar, dan standar membutuhkan kepercayaan. Dan sejak saat itu, emas telah menjadi simbol kepercayaan tersebut. Pelajaran Krusial dari Abad ke-21 Inilah yang membuat emas relevan hari ini: pelajaran keras dari krisis modern yang memvalidasi kebijaksanaan ribuan tahun. 1. Perjalanan Emas saat Krisis Keuangan 2008: Ketika Sistem Modern Runtuh Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di dunia, kolaps dalam semalam. Triliunan dolar aset menguap. Sistem perbankan yang dianggap “terlalu besar untuk gagal” ternyata rapuh. Sementara itu, emas naik 25% dalam setahun setelah krisis—melindungi mereka yang memilikinya. Pelajaran: Institusi modern bisa runtuh, tetapi emas tetap berdiri. Bank sentral dunia hingga kini masih memegang sepertiga dari seluruh emas dunia (1,140 juta ounce)—bukan tanpa alasan. Mereka tahu bahwa emas adalah “war chest” yang dapat dimanfaatkan dalam kekacauan mata uang global. 2. Pandemi COVID-19 (2020-2023): Inflasi yang Menghancurkan Daya Beli Ketika pandemi melanda, bank sentral di seluruh dunia mencetak uang dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasilnya? Inflasi global yang menghancurkan tabungan masyarakat. Di Indonesia, inflasi mencapai 5.51% pada 2022. Di AS, inflasi menyentuh 9.1%—tertinggi dalam 40 tahun. Namun, emas bereaksi berbeda. Harga emas mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, melampaui $2.100 per ounce. Mereka yang menyimpan kekayaan dalam emas tidak hanya terlindungi, tetapi juga melihat nilai aset mereka meningkat. Pelajaran: John Maynard Keynes pernah mengingatkan, “Melalui proses inflasi yang berkelanjutan, pemerintah dapat menyita, secara diam-diam dan tidak teramati, bagian penting dari kekayaan warganya.” Emas adalah jawaban terhadap pencurian tersembunyi ini. Ketika Rp10 juta hari ini tidak sama dengan Rp10 juta lima tahun mendatang, emas mempertahankan daya belinya. 3. Ketidakstabilan Geopolitik: Perang Dagang hingga Konflik Dari perang dagang AS-China, konflik Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah—ketidakpastian geopolitik telah mendorong investor mencari “safe haven”. Setiap kali krisis geopolitik memuncak, harga emas naik. Bukan kebetulan—ini refleksi dari kepercayaan ribuan tahun bahwa emas adalah aset teraman saat dunia bergolak. Pelajaran: Dalam dunia yang semakin tidak dapat diprediksi, emas menawarkan stabilitas yang tidak dapat dijanjikan oleh mata uang fiat atau bahkan saham teknologi. George Bernard Shaw pada 1928 menulis: “Anda harus memilih antara mempercayai stabilitas natural emas dan kejujuran serta kecerdasan anggota pemerintah. Saya menyarankan Anda memilih emas.” 4. Era Digital: Emas Bertransformasi, Bukan Tergantikan Cryptocurrency muncul dengan janji desentralisasi dan kebebasan dari kontrol pemerintah. Bitcoin disebut “digital gold”. Namun volatilitasnya yang ekstrem—bisa naik 100% atau turun 70% dalam setahun—membuktikan bahwa ia lebih seperti aset spekulatif daripada penyimpan nilai. Di sinilah evolusi terjadi: gold-backed cryptocurrency menggabungkan keunggulan teknologi blockchain dengan stabilitas emas. Platform seperti NUNOMICS.id hadir sebagai solusi yang menghubungkan dunia fisik dan digital—memungkinkan Anda memiliki, menyimpan, dan bertransaksi dengan emas melalui teknologi modern tanpa kehilangan nilai intrinsiknya. Pelajaran: Teknologi adalah alat, bukan pengganti. Emas tidak bersaing dengan Bitcoin—ia melengkapi portofolio modern sebagai fondasi yang tidak tergoyahkan. Imam al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah mengajarkan bahwa uang adalah alat, bukan tujuan. NUNOMICS.id mewujudkan prinsip ini: teknologi sebagai medium untuk mengakses stabilitas emas. Mengapa Ini Penting untuk Anda Hari Ini? Akuntabilitas Fiskal yang Hilang: Di bawah standar emas, pemerintah menghadapi batasan fundamental—mereka harus menjalankan anggaran berimbang karena setiap lembar mata uang harus di-backing oleh emas fisik. Ludwig von Mises menyebutnya sebagai “perlindungan terhadap pemerintah yang boros.” Tapi hari ini, dengan sistem fiat money, tombol “print money” praktis tanpa batas. Butuh dana stimulus? Print. Defisit membengkak? Print lagi. Dan siapa yang membayar tagihan ini? Rakyat—melalui inflasi yang menggerogoti daya beli secara diam-diam. Uang di rekening Anda tetap terlihat sama, tapi kemampuannya membeli barang berkurang setiap tahun. Ini bukan pajak resmi, tapi efeknya sama: transfer kekayaan dari kantong Anda ke kas negara. Financial Repression:  Alan Greenspan, mantan Ketua Federal Reserve AS, pernah menulis: “Deficit spending hanyalah skema untuk penyitaan kekayaan. Emas menghalangi proses berbahaya ini.” Ya, orang yang memimpin bank sentral paling powerful mengakui bahwa sistemnya adalah mekanisme transfer kekayaan terselubung. Dari 1945 hingga 1980, suku bunga riil negatif telah merugikan pemberi pinjaman sekitar 3-4% dari PDB per tahun—transfer masif dari penabung ke peminjam (pemerintah). Kalau Anda punya tabungan dengan bunga 3% tapi inflasi riil 5%, Anda sebenarnya kehilangan 2% daya beli per tahun—terus-menerus. Emas menjadi “musuh” sistem ini karena tidak bisa dimanipulasi: pemerintah tidak bisa mencetak emas, tidak bisa menurunkan “suku bunga emas.” Emas adalah opt-out dari permainan yang sedang Anda mainkan—bahkan tanpa tahu Anda sedang bermain. Stabilitas Jangka Panjang:  Mari bicara fakta keras: Sejak 1971, dolar AS telah kehilangan lebih dari 85% daya belinya—$100 di tahun 1971 hari ini hanya bernilai sekitar $15 dalam daya beli riil. Sementara itu, emas telah naik lebih dari 5,000% dalam periode yang sama, dari $35 per ounce menjadi lebih dari $2,000. Ini bukan karena emas “naik”—yang sebenarnya terjadi adalah mata uang fiat turun, dan emas hanya mencerminkan depresiasi itu. Ini bukan tentang spekulasi atau menjadi “gold bug” fanatik—ini tentang memahami permainan yang sedang dimainkan di belakang layar dan membuat keputusan yang melindungi kerja keras Anda dari erosi nilai yang sistematis. Karena pertanyaannya bukan “Apakah emas akan naik?” tetapi “Apakah mata uang Anda akan terus turun?”—dan sejarah 50 tahun terakhir sudah menjawabnya dengan sangat jelas. Tindakan Konkret untuk Sahabat NUNOMICS Sejarah telah berbicara melalui 26 abad: dari Code of Hammurabi hingga blockchain, dari Babilonia hingga bank sentral modern. Pertanyaannya bukan lagi “apakah emas relevan?” tetapi “seberapa besar porsi emas dalam portofolio Anda?” Bank sentral global tahu jawabannya—mereka memegang rata-rata 30% total cadangan mereka dalam bentuk emas yang tidak menghasilkan bunga. Jika penjaga sistem keuangan dunia menempatkan kepercayaan pada emas, mengapa Anda tidak? Di era ketidakpastian—inflasi yang merajalela, ketegangan geopolitik, dan manipulasi

Scroll to Top