Author name: admin_nunomics2

Emas Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS, Pasar Cermati Negosiasi Damai AS-Iran dan Arah Kebijakan The Fed

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas menguat lebih dari 1% pada perdagangan Senin (25/5/2026), didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan harga minyak dunia. Di saat yang sama, investor terus mencermati perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi mempengaruhi sentimen pasar global, khususnya sektor energi dan aset safe haven. Harga emas spot tercatat naik 1,4% menjadi US$4.570,88 per troy ounce pada pukul 00.45 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni menguat 1,1% ke level US$4.572,90 per troy ounce. Penguatan harga emas terjadi seiring melemahnya dolar AS, yang membuat logam mulia tersebut lebih terjangkau bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen investasi dan lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pergerakan pasar saat ini juga dipengaruhi oleh perkembangan hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan menyatakan bahwa dirinya meminta para negosiator untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Teheran. Pernyataan tersebut meredam optimisme pasar yang sebelumnya muncul setelah Trump menyebut kedua negara telah “sebagian besar menyelesaikan negosiasi” terkait nota kesepahaman perdamaian. Pelaku pasar menilai potensi tercapainya kesepakatan dapat membuka kembali akses distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Prospek tersebut turut menekan harga minyak ke level terendah dalam dua pekan terakhir karena ekspektasi berkurangnya risiko gangguan pasokan global. Meski harga minyak melemah, emas tetap memperoleh dukungan dari faktor makro ekonomi, terutama pergerakan dolar AS dan ketidakpastian terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Perhatian investor juga tertuju pada kepemimpinan baru Federal Reserve. Kevin Warsh resmi menjabat sebagai Ketua The Fed pada Jumat lalu di tengah tantangan inflasi yang masih tinggi dan melemahnya sentimen konsumen AS. Pasar kini menunggu sinyal mengenai langkah bank sentral dalam menyeimbangkan upaya pengendalian inflasi dengan kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi. Dari sisi posisi pasar, data terbaru menunjukkan spekulan mengurangi posisi beli bersih (net long position) emas sebanyak 6.239 kontrak pada pekan yang berakhir 19 Mei. Dengan penurunan tersebut, total posisi beli bersih tercatat sebanyak 94.388 kontrak. Kondisi ini mengindikasikan sebagian investor memilih mengambil sikap lebih hati-hati sambil menunggu perkembangan baru dari sisi kebijakan moneter maupun geopolitik. Permintaan fisik emas juga menunjukkan tanda perlambatan di beberapa pasar utama. Di India, emas diperdagangkan dengan diskon yang cukup besar akibat volatilitas harga yang menekan minat pembelian. Sementara di China, premi emas mengalami penurunan, mencerminkan melemahnya permintaan pada level harga yang masih relatif tinggi. Di dalam negeri, harga emas fisik turut mengikuti tren penguatan pasar global. Pada perdagangan Senin (25/5/2026), harga emas fisik di Bursa Emas Fisik JFXGOLD X menguat 0,98% hingga mencapai US$4.570 per troy ounce atau Rp2.655.331 per gram. Penguatan tersebut didukung oleh melemahnya dolar AS dan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian prospek inflasi serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mencatatkan penguatan. Harga perak spot naik 3,9% menjadi US$78,42 per troy ounce. Platinum menguat 1,9% menjadi US$1.959,85 per troy ounce, sedangkan palladium naik 1,9% menjadi US$1.373,25 per troy ounce. Prospek PasarAnalis menilai pergerakan emas saat ini tidak lagi semata-mata dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik. Fokus investor telah bergeser pada prospek inflasi AS, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, serta dampak perkembangan hubungan AS-Iran terhadap pasar energi global.Selama dolar AS masih berada dalam tekanan dan inflasi belum menunjukkan penurunan yang signifikan, harga emas diperkirakan tetap mendapat dukungan. Namun, kemajuan substansial dalam negosiasi damai AS-Iran serta potensi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve dapat membatasi ruang penguatan logam mulia dalam jangka pendek. Dengan kondisi tersebut, emas masih dipandang sebagai instrumen lindung nilai strategis terhadap risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, meskipun sentimen pasar kini semakin dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter dibandingkan faktor geopolitik semata. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer :Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Emas Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS, Pasar Cermati Negosiasi Damai AS-Iran dan Arah Kebijakan The Fed Read More »

Harga Emas Global Stabil di Tengah Ketegangan Timur Tengah, JFXGOLD X Menguat Tipis

Jakarta, MetalNews Digital – 19 Mei 2026 Harga emas global bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa, seiring pelaku pasar mengambil jeda setelah volatilitas tinggi dalam beberapa sesi terakhir. Fokus investor kini tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran untuk membuka ruang negosiasi. Di pasar spot, emas tercatat melemah tipis 0,1% ke level US$4.560,39 per troy ounce pada awal sesi Asia, setelah sebelumnya menyentuh level terendah sejak akhir Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni justru naik 0,1% ke US$4.563,50 per troy ounce, mencerminkan sikap wait and see investor terhadap arah pasar selanjutnya. Analis global menilai pergerakan pasar saat ini mencerminkan fase konsolidasi. Mengutip dari Reuters.com Ilya Spivak dari Tastylive menyebut pasar tengah “menyerap dampak volatilitas sebelumnya” sambil menunggu katalis baru, terutama risalah rapat April dari Federal Reserve yang dijadwalkan rilis pekan ini. Risalah tersebut diharapkan memberi petunjuk lanjutan terkait arah kebijakan suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi. Tekanan terhadap emas sebelumnya dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi global akibat meningkatnya ekspektasi inflasi. Namun, penurunan harga minyak lebih dari 2% pada awal pekan membantu meredakan sebagian kekhawatiran tersebut. Meski dikenal sebagai lindung nilai inflasi, emas cenderung tertekan dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil. Dari sisi geopolitik, keputusan Donald Trump untuk menunda aksi militer terhadap Iran dinilai menurunkan tensi jangka pendek, meskipun risiko konflik belum sepenuhnya mereda. Melansir dari Reuters.com Iran dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian baru ke Washington, membuka peluang diplomasi yang dapat mempengaruhi sentimen pasar ke depan. Sementara itu, dinamika kebijakan moneter AS juga menjadi sorotan. Kevin Warsh dijadwalkan dilantik sebagai Ketua The Fed pada Jumat mendatang, di tengah tantangan inflasi yang meningkat. Pergantian kepemimpinan ini dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan suku bunga, terutama terkait ekspektasi pelonggaran yang sebelumnya didorong oleh Gedung Putih. Di pasar domestik, harga emas fisik turut mencerminkan stabilitas global. Pada platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X, harga emas tercatat berada di level US$4.561,74 per troy ounce atau Rp2.628.650 per gram* pada perdagangan hari ini Selasa (19/5/2026). Harga tersebut menguat Rp11.000 per gram setelah sebelumnya mengalami tekanan selama sepekan terakhir. Penguatan ini menunjukkan adanya respons positif terhadap stabilisasi harga global, meskipun pergerakan masih terbatas. Pelaku pasar domestik dinilai masih berhati-hati, dengan kecenderungan akumulasi secara selektif di tengah ketidakpastian global. Secara keseluruhan, pasar emas saat ini berada dalam fase sensitif, dengan arah pergerakan yang sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik, kebijakan moneter, serta dinamika inflasi global. Dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut hingga terdapat kejelasan lebih lanjut dari kebijakan bank sentral AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer :Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Harga Emas Global Stabil di Tengah Ketegangan Timur Tengah, JFXGOLD X Menguat Tipis Read More »

Harga Emas Global di Titik Kritis, Tertekan Yield Tinggi dan Dolar Kuat

Jakarta, MetalNews Digital — Harga emas global berada di fase penentuan arah seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan tekanan dari faktor makroekonomi global. Pergerakan pasar saat ini lebih dipengaruhi oleh perkembangan konflik di kawasan Iran dan Selat Hormuz dibandingkan rilis data ekonomi yang solid, sehingga memicu pergerakan serempak pada minyak, emas, dolar AS, dan pasar saham. Emas (XAU) tercatat berada di kisaran US$4.538 per troy ounce, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan. Pelemahan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS dan penguatan dolar, yang mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil. Meskipun demikian, permintaan terhadap emas masih bertahan sebagai instrumen lindung nilai. Pelaku pasar dinilai belum berada dalam kondisi panik, melainkan masih melakukan akumulasi secara terukur. Sentimen terhadap emas tercatat cenderung positif moderat, belum menunjukkan euforia. Secara fundamental, harga emas saat ini berada di bawah tekanan dua kekuatan utama. Di satu sisi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dukungan terhadap harga. Namun di sisi lain, kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan bank sentral AS (The Fed), disertai penguatan dolar dan tingginya yield obligasi, menjadi faktor penahan kenaikan. Selain itu, kebijakan global turut memberi pengaruh. India dilaporkan menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15%, sementara People’s Bank of China (PBoC) melanjutkan tren pembelian emas selama 18 bulan berturut-turut. Meski mendukung harga, langkah ini belum cukup kuat untuk mendorong reli signifikan. Dari sisi teknikal, emas saat ini berada di level support krusial. Jika level tersebut ditembus, harga berpotensi melanjutkan penurunan lebih dalam. Sebaliknya, jika mampu bertahan, peluang rebound jangka pendek masih terbuka. Namun secara umum, emas kini lebih sensitif terhadap dinamika suku bunga dan data makro dibandingkan faktor safe haven semata. Dampak pelemahan harga emas global juga mulai terasa di pasar domestik. Di platform bursa emas fisik JFXGOLD X, harga emas tercatat melemah sekitar 3,45% per troy ounce, atau setara dengan penurunan sekitar Rp60.000 per gram. Pelemahan ini membuat harga emas bertahan di level Rp2.616.799 per gram, mencerminkan transmisi langsung dari tekanan pasar global ke instrumen fisik dalam negeri. Di pasar energi, minyak menjadi variabel utama yang memengaruhi keseluruhan sentimen pasar. Harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel berisiko mempertahankan tekanan inflasi global. Sebaliknya, jika harga minyak turun, ekspektasi pelonggaran kebijakan suku bunga dapat menguat dengan cepat. Sementara itu, tekanan eksternal juga tercermin pada nilai tukar rupiah. Kurs USD/IDR berada di level sekitar 17.442, dengan pelemahan yang berlangsung secara terkelola. Bank Indonesia (BI) menegaskan akan melakukan intervensi besar di pasar spot dan offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar. Pergerakan rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh indeks dolar AS (DXY) yang berada di kisaran 99, tetapi juga oleh lonjakan harga minyak dan arus keluar modal asing. Kondisi ini mencerminkan tekanan eksternal yang cukup kuat terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, pasar saham global, khususnya di AS, masih mendapat dukungan dari kinerja laba emiten. Namun indikator breadth pasar dan pergerakan yield menunjukkan bahwa reli yang terjadi cenderung rapuh dan tidak merata. Untuk pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai menjadi salah satu yang paling rentan. Hal ini disebabkan oleh paparan simultan terhadap tekanan harga minyak, pelemahan nilai tukar, serta arus keluar dana asing. Secara keseluruhan, pasar keuangan global saat ini berada dalam fase sensitif dengan arah pergerakan yang sangat bergantung pada dinamika suku bunga, kekuatan dolar, serta perkembangan geopolitik. Harga emas, sebagai salah satu indikator utama, mencerminkan kondisi tersebut dengan pergerakan yang masih fluktuatif dan belum menunjukkan arah tren yang kuat dalam jangka pendek. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer :Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Harga Emas Global di Titik Kritis, Tertekan Yield Tinggi dan Dolar Kuat Read More »

Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz

Jakarta, MetalNews Digital – Ketegangan geopolitik dan gangguan pasokan energi kembali menjadi penggerak utama pasar global. Konflik di Timur Tengah yang terus berkembang mendorong investor meningkatkan eksposur pada aset lindung nilai, terutama emas, sementara pasar energi dan mata uang negara berkembang ikut merasakan dampaknya. Pada perdagangan Jumat, harga emas global kembali menguat sekitar 1% setelah sempat turun lebih dari 1% pada sesi sebelumnya. Harga emas spot tercatat di sekitar $5.124 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik 1,1% ke $5.131. Kenaikan ini terjadi ketika investor kembali mencari aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Konflik yang kini memasuki hari keenam tersebut memicu eskalasi militer yang lebih luas. Iran dilaporkan melancarkan serangan ke Israel, Uni Emirat Arab, dan Qatar, sementara Amerika Serikat menyatakan memiliki cukup amunisi untuk melanjutkan operasi udara tanpa batas waktu. Kampanye militer AS–Israel yang dimulai sejak akhir pekan lalu telah menargetkan berbagai fasilitas di Iran dan memicu serangan balasan. Eskalasi ini tidak hanya meningkatkan risiko geopolitik, tetapi juga mengganggu jalur distribusi energi global. Gangguan pada pengiriman tanker dan jalur pelayaran strategis di kawasan tersebut menjadi faktor operasional utama yang memicu penyesuaian harga komoditas. Harga minyak Brent untuk kontrak bulan depan kini mengetat di kisaran $84–85 per barel, mencerminkan tekanan pasokan jangka pendek. Jika hambatan pengiriman terus berlanjut, pasar menilai risiko harga minyak dapat meningkat ke kisaran $90 hingga $100 per barel. Lonjakan harga energi ini menciptakan apa yang disebut pelaku pasar sebagai shock arus kas akibat gangguan pasokan, bukan perubahan fundamental pada permintaan global. Namun dampaknya langsung terasa pada inflasi dan sentimen pasar keuangan. Dalam konteks ini, emas kembali berfungsi sebagai asuransi taktis terhadap risiko geopolitik. Sepanjang tahun ini, harga emas telah naik sekitar 18%, mencetak rekor tertinggi berulang kali seiring meningkatnya ketidakpastian global. Arus dana juga terlihat meningkat, dengan aliran ke ETF emas yang bertambah pada pekan ini—menandakan permintaan dari investor institusional. Robby Leonardo – Head of Research Analyst and Market Development, MetalBank Global Monetary menyebut pergerakan emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi teknikal dengan bias naik. “Dalam jangka pendek, harga emas diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan level dukungan di sekitar $5.040 dan resistensi utama di $5.280. Jika level resistensi ini berhasil ditembus, emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju $5.448. Sentimen pasar juga menunjukkan posisi net long yang meningkat, dengan investor institusional menjadi pembeli dominan, sementara investor ritel mulai menunjukkan tanda FOMO ringan.” jelas Robby kepada tim MetalNews Digital. Meski demikian, reli emas tidak sepenuhnya tanpa batas. Penguatan dolar AS dan pergerakan imbal hasil riil masih menjadi faktor yang dapat menahan laju kenaikan. Karena itu, pergerakan emas saat ini lebih mencerminkan permintaan lindung nilai dan aliran dana, bukan perubahan struktural pada siklus suku bunga global. Di pasar saham Amerika Serikat, dinamika yang berbeda terlihat. Indeks utama seperti S&P 500 dan Nasdaq masih bergerak naik, namun kepemimpinan pasar semakin sempit, hanya ditopang oleh sejumlah kecil saham berkapitalisasi besar. Level 6.800 pada S&P 500 menjadi titik pivot penting bagi investor. Selama indeks berada di sekitar level ini, strategi yang banyak diambil adalah melakukan lindung nilai terhadap posisi yang terlalu terkonsentrasi dan menahan diri dari ekspansi risiko yang agresif. Sementara itu, pasar negara berkembang juga ikut merasakan tekanan dari lonjakan energi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR) dinilai cukup rentan terhadap kenaikan harga minyak, karena dapat memperbesar tekanan pada neraca perdagangan energi Indonesia. Arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan sangat bergantung pada langkah intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing. Di pasar saham domestik, IHSG masih menghadapi tekanan akibat arus keluar dana asing. Namun analis menilai situasi ini dapat berubah relatif cepat jika aliran dana global kembali masuk ke pasar negara berkembang. Secara keseluruhan, pasar global saat ini berada dalam fase risk re-calibration, di mana konflik geopolitik memicu gangguan pasokan energi, meningkatkan volatilitas komoditas, dan mendorong investor kembali ke aset aman. Dalam lanskap seperti ini, emas tetap menjadi salah satu instrumen utama yang digunakan investor untuk melindungi portofolio dari ketidakpastian global. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer :Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Konflik Timur Tengah Memanas, Emas Berpotensi Meledak ke $5.448/toz Read More »

Harga Emas Cetak Rekor Baru di Atas US$5.200/toz, Didorong Pelemahan Dolar dan Pembelian Bank Sentral

Jakarta, MetalNews Digital — Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa dengan menembus level US$5.200 per troy ounce pada perdagangan terbaru. Kenaikan harga logam mulia tersebut didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil riil, serta berlanjutnya pembelian oleh bank sentral dan instrumen exchange-traded fund (ETF) di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Penguatan harga emas terjadi seiring menguatnya sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan internasional. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman di tengah kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter AS, ketidakpastian politik, serta dinamika ekonomi global yang masih rapuh. Kenaikan harga emas global tersebut tercermin di pasar domestik melalui platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X. Pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026), harga emas di Bursa Emas Fisik JFXGOLD X tercatat berada di level US$5.241,06 per troy ounce, setara dengan Rp2.862.407 per gram. Dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya, harga tersebut meningkat 3,17 persen atau sekitar Rp76.000 per gram dalam satu hari perdagangan. Dari sisi fundamental, pelaku pasar semakin memperhitungkan peluang bahwa Bank Sentral AS (The Federal Reserve) akan menghentikan atau menyesuaikan kebijakan moneternya lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Perubahan ekspektasi tersebut menekan imbal hasil riil obligasi AS dan menopang kenaikan harga emas, yang secara historis memiliki korelasi negatif terhadap imbal hasil dan nilai tukar dolar AS. Selain faktor moneter, risiko geopolitik yang masih tinggi serta ketidakpastian politik di sejumlah kawasan turut memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Aktivitas pembelian oleh bank sentral dan institusi keuangan global dinilai mencerminkan upaya diversifikasi cadangan serta perlindungan nilai aset di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Meski demikian, Head of Research, Analysis, and Market Development Metalbank Global Monetary – Robby Leonardo, menilai potensi volatilitas harga emas dalam jangka pendek masih tetap tinggi. Menurutnya, sikap kebijakan The Fed yang lebih ketat (hawkish), melemahnya aliran dana ke ETF, atau rilis data ekonomi AS yang lebih kuat dari perkiraan—terutama data inflasi dan ketenagakerjaan—berpotensi memicu koreksi harga emas. “Dalam jangka pendek, pergerakan harga emas masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter AS. Selama pembelian bank sentral dan aliran dana ke ETF tetap berlanjut, tren penguatan harga emas dinilai masih memiliki dukungan struktural yang kuat, meskipun diiringi fluktuasi yang signifikan,” ujar Robby kepada MetalNews. Sementara itu, dinamika kebijakan moneter AS juga berdampak terhadap pergerakan aset global lainnya. Mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung bergerak dalam rentang terbatas seiring perubahan arah dolar AS dan imbal hasil obligasi AS. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa ekspektasi terhadap kebijakan The Fed masih menjadi faktor dominan dalam membentuk arah pasar keuangan global. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer :Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Harga Emas Cetak Rekor Baru di Atas US$5.200/toz, Didorong Pelemahan Dolar dan Pembelian Bank Sentral Read More »

Harga Emas Tembus US$5.000/toz, Bursa Emas Fisik JFXGOLD X Naik 17% di Awal 2026

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi dengan menembus level US$5.000 per troy ounce pada perdagangan Senin (26/1/2026), didorong lonjakan permintaan aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik global serta melemahnya kepercayaan investor terhadap aset Amerika Serikat. Harga emas di bursa emas fisik JFXGOLD X tercatat naik 3,02% ke level US$5.090,28 per troy ounce setelah sempat menyentuh puncak US$4.941,21 per troy ounce pada perdagangannya Jumat kemarin. Penguatan harga emas global tersebut langsung tercermin di pasar domestik. Di Bursa Emas Fisik JFXGOLD X, harga emas melonjak lebih dari 17% sejak awal 2026 atau dalam waktu kurang dari satu bulan. Kenaikan tersebut membawa harga emas fisik di bursa ini ke level US$5.090,28 per troy ounce, setara dengan Rp2.807.008 per gram pada perdagangan hari ini. Reli harga emas didukung meningkatnya minat investor terhadap instrumen safe haven, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, serta pembelian emas yang berkelanjutan oleh bank sentral global. China, misalnya, tercatat memperpanjang aksi pembelian emas selama 14 bulan berturut-turut hingga Desember lalu, yang memperkuat permintaan struktural terhadap logam mulia. Analis Pasar Senior Capital.com, Kyle Rodda, seperti dikutip Reuters, menilai lonjakan harga emas mencerminkan krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan aset Amerika Serikat, seiring kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak konsisten dan memicu ketidakpastian pasar global. Dari sisi nilai tukar, pelemahan dolar AS yang dipicu penguatan yen Jepang turut menopang kenaikan harga emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia bagi investor global menjelang pertemuan Federal Reserve. Sentimen positif terhadap emas juga diperkuat dinamika politik domestik AS. Ancaman Partai Demokrat di Senat untuk memblokir paket pendanaan pemerintah yang mencakup anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS) meningkatkan risiko kebuntuan fiskal dan potensi penutupan sebagian pemerintahan federal. Secara historis, kondisi ini berdampak positif terhadap harga emas melalui meningkatnya ketidakpastian kebijakan, menguatnya sentimen risk-off, melemahnya kepercayaan terhadap institusi AS yang menekan dolar dan imbal hasil riil, serta pergeseran investor ke aset lindung nilai. Meski bukan guncangan global, eskalasi konflik anggaran yang berlarut dinilai berpotensi menjaga harga emas tetap bertahan tinggi atau melanjutkan tren kenaikan. Head of Research and Market Development Metalbank Global Monetary, Robby Leonardo, mengatakan bahwa seiring pasar mencermati arah kebijakan Federal Reserve dan rilis data makroekonomi AS, pelaku pasar global cenderung mengadopsi strategi defensif dan selektif lintas aset. “Emas tetap dipandang sebagai instrumen lindung nilai utama, sementara di pasar valuta asing rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.600–Rp16.800 per dolar AS,” ujarnya. Di pasar saham, investor meningkatkan perlindungan terhadap saham teknologi Amerika Serikat yang terkonsentrasi, sembari mencermati peluang pada saham siklikal dan saham eksportir komoditas berkapitalisasi besar di pasar domestik, dengan arus investor asing menjadi penentu arah selanjutnya. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer:Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Harga Emas Tembus US$5.000/toz, Bursa Emas Fisik JFXGOLD X Naik 17% di Awal 2026 Read More »

Emas Meroket ke Area Rekor, Investor Berburu Aset Aman

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia diperdagangkan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran US$4.670 per troy ounce. Penguatan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong lonjakan permintaan terhadap aset lindung nilai (safe haven). Ketegangan hubungan dagang dan politik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa menjadi faktor utama yang menekan sentimen pasar. Ancaman penerapan tarif yang kian mendekat serta berlanjutnya perselisihan geopolitik global membuat investor mengalihkan portofolio ke emas. Dari sisi kebijakan moneter, pasar menanti rilis data inflasi PCE Amerika Serikat yang menjadi acuan utama Federal Reserve. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga, ditambah isu independensi bank sentral AS, memperkuat minat terhadap emas. Kinerja emas yang tetap solid juga mencerminkan risiko global yang berlanjut, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran dan Venezuela. Dalam situasi tersebut, emas diperdagangkan dengan permintaan lindung nilai yang stabil, seiring pelemahan imbal hasil riil. Robby Leonardo, Head of Research Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary mengatakan, pada kisaran US$4.660 per troy ounce, harga emas memperoleh dukungan dari pembelian bank sentral serta aliran dana ke exchange traded fund (ETF). Permintaan struktural ini menjadi penopang utama harga di tengah volatilitas pasar global. Penguatan harga emas global sejalan dengan naiknya harga emas di bursa emas fisik JFXGOLD X. Pada perdagangannya hari ini, Selasa (20/1/2026) harganya menempati angka US$ 4.674.03 per troy ounce atau Rp. 2.586.268 per gram. “Dari sisi sentimen, minat investor institusi terhadap emas tetap moderat sebagai strategi lindung nilai. Pasar opsi menunjukkan meningkatnya permintaan proteksi terhadap volatilitas dan risiko penurunan harga.” Robby Leonardo, Head of Research Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary kepada tim MetalNews Digital. Sementara itu, di pasar valuta asing, USD/IDR bergerak dalam rentang 16.900–17.020. Rupiah didukung aliran ekspor komoditas, terutama nikel, kelapa sawit, dan batu bara. Kebijakan Bank Indonesia serta kesiapan intervensi di pasar valas menahan pergerakan ekstrem. Sentimen investor domestik terjaga positif, sementara investor asing masih bersikap hati-hati. Likuiditas yang relatif tipis membuat pergerakan pasar tetap responsif terhadap perkembangan data dan isu global. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer:Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Emas Meroket ke Area Rekor, Investor Berburu Aset Aman Read More »

Risk-Off Global Angkat Harga Emas, JFXGOLD X Menguat 1,15%

Jakarta, MetalNews Digital – Pasar keuangan global bergerak dalam fase penghindaran risiko (risk-off) seiring kombinasi penyesuaian kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed), meningkatnya ketegangan tarif, serta eskalasi geopolitik yang menjadi faktor dominan lintas aset. Kondisi tersebut menopang permintaan aset lindung nilai, sehingga harga emas bertahan kuat di kisaran US$4.650–4.660 per troy ounce. Pergerakan ini didukung pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan tekanan pada imbal hasil riil, seiring ekspektasi pasar terhadap sikap kebijakan The Fed yang lebih longgar di akhir siklus pengetatan. Membuka perdagangan pekan ini, Senin (19/1/2026), harga emas di bursa emas fisik JFXGOLD X tercatat menguat 1,15% atau sekitar Rp22.000 per gram. Penguatan tersebut menempatkan harga emas fisik JFXGOLD X di level US$4.654,12 per troy ounce atau setara Rp2.570.494 per gram. Kenaikan ini mencerminkan berlanjutnya aliran dana ke aset aman di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dari sisi fundamental Robby Leonardo, Head of Research Analyst and Market Development Metalbank Global Monetary mengatakan, meningkatnya ketegangan tarif dan geopolitik, serta pelemahan dolar AS, kembali menjadi katalis utama pergerakan harga emas yang secara historis dipandang sebagai penyimpan nilai tanpa imbal hasil. Pada saat yang sama, imbal hasil riil tetap berada dalam tekanan seiring pasar memperhitungkan potensi kebijakan moneter The Fed yang lebih akomodatif, sehingga menurunkan biaya oportunitas kepemilikan emas batangan. Dari sisi sentimen, aktivitas lindung nilai institusional, arus masuk dana melalui exchange traded fund (ETF), serta pergerakan pasar opsi mengindikasikan adanya pembelian saat harga mengalami koreksi. “Di pasar valuta asing, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah (USD/IDR) bergerak dalam kisaran 16.700–17.000. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar dalam merespons dinamika global, sementara aktivitas lindung nilai korporasi cenderung dilakukan secara bertahap” ucap Robby Leonardo kepada tim MetalNews Digital pagi ini. Sementara itu, pasar saham AS masih menunjukkan kepemimpinan yang terbatas, terutama pada sektor teknologi, sehingga membuat pergerakan indeks relatif rentan terhadap perubahan sentimen. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak dalam rentang terbatas dan ditopang oleh partisipasi investor domestik, meskipun arah pergerakan selanjutnya masih sangat bergantung pada arus dana asing. Adapun harga minyak dunia bergerak fluktuatif seiring respons pasar terhadap perkembangan geopolitik dan sinyal pasokan global, dengan volatilitas yang masih dipengaruhi oleh peristiwa jangka pendek. Pemantauan harga dan transaksi emas di Platform Bursa Emas Fisik JFXGOLD X dapat diaskes pada aplikasi Nunomics. Disclaimer:Informasi harga dan analisis pasar yang disampaikan bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu. Lakukan analisis dan pertimbangan pribadi sebelum mengambil keputusan. Simak informasi lainnya hanya di MetalNews.

Risk-Off Global Angkat Harga Emas, JFXGOLD X Menguat 1,15% Read More »

Scroll to Top