Geopolitik

Geopolitik menyebakan orang kembali melirik emas

Ketika Dunia Gelisah Karena Tragedi Geopolitik, 55% Orang Berpotensi Kembali ke Emas

Ada pola yang selalu berulang sepanjang sejarah manusia: ketika dunia berguncang karena geopolitik yang terjadi, orang mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang. Bukan janji-janji di atas kertas. Bukan angka digital di layar komputer. Melainkan sesuatu yang sudah teruji ribuan tahun—emas. Tahun 2025 membuktikan kembali pola ini. Harga emas menembus rekor demi rekor, melonjak lebih dari 50% sejak awal tahun, bahkan mencapai puncak di atas $4.300 per ons. Ini bukan sekadar tren pasar biasa. Ini adalah sinyal ketakutan global yang terterjemahkan dalam logam mulia. Perang, Geopolitik, dan Kehilangan Kepercayaan Mengapa emas? Karena ketika dunia tidak menentu, kepercayaan pada uang kertas mulai goyah. Konflik Rusia-Ukraina terus berlangsung, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dan persaingan antara Amerika Serikat dengan China semakin tajam. Semua ini menciptakan apa yang disebut ekonom sebagai “lingkungan kaya katalis” untuk emas. Yang membuat situasi 2025 berbeda dari masa lalu adalah intensitas pembelian oleh bank sentral. Bank sentral global telah membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun sejak 2022, laju tercepat dalam sejarah modern. China, India, Turki, Kazakhstan—negara-negara ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Mereka sedang membangun benteng pertahanan ekonomi. Pembekuan cadangan mata uang Rusia oleh Barat setelah invasi Ukraina pada 2022 menjadi momen pencerahan bagi banyak negara. Mereka menyadari: jika cadangan devisa Anda bisa dibekukan dengan satu ketukan tombol, apakah itu benar-benar milik Anda? Emas tidak bisa dibekukan. Tidak bisa dihapus dari sistem. Emas adalah nyata, fisik, dan berada di bawah kontrol penuh pemiliknya. Flight to Safety: Pelarian ke Zona Aman Istilah “flight to safety” dalam bahasa ekonomi berarti perpindahan modal dari aset berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman. Ketika ketidakpastian meningkat, investor menjual saham dan obligasi berisiko, lalu membeli emas. Ini bukan spekulasi—ini survival instinct yang terstruktur dalam pasar keuangan. Yang menarik dari tahun 2025, bahkan obligasi pemerintah Amerika Serikat—yang selama lebih dari seabad dianggap sebagai aset teraman di dunia—mengalami penurunan permintaan pada bulan April. Di saat yang sama, emas justru mengalami aliran dana masuk yang luar biasa besar. Artinya? Kepercayaan terhadap sistem moneter konvensional sedang terkikis. Emas mencatat kenaikan tahunan terkuat sejak 1979, tahun ketika dunia juga bergulat dengan inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik yang serupa. Sejarah berulang, tapi dengan aktor yang berbeda. Investor Institusi Ikut Masuk Bukan hanya negara. Investor institusi besar—dana pensiun, hedge funds, asuransi—juga meningkatkan alokasi mereka ke emas. Total kepemilikan ETF emas global naik sebesar 397 ton pada semester pertama 2025, level tertinggi sejak Agustus 2022. Ini bukan uang kecil—ini triliunan dolar yang mencari perlindungan. J.P. Morgan memperkirakan harga emas akan mencapai rata-rata $3.675 per ons pada kuartal keempat 2025 dan naik mendekati $4.000 pada pertengahan 2026. Proyeksi ini bukan spekulasi semata, melainkan berdasarkan pola permintaan struktural dari bank sentral dan investor yang terus berlanjut. Yang unik dari siklus kenaikan emas kali ini: bank sentral membeli emas tanpa mempedulikan harga. Mereka tidak trading untuk profit jangka pendek. Mereka membeli untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Ini menciptakan “lantai harga” struktural—harga tidak akan jatuh terlalu dalam karena ada pembeli tetap yang tidak pernah berhenti. Dollar Melemah, Emas Menguat Ada hubungan terbalik antara dolar Amerika dan emas. Ketika dolar melemah, emas biasanya menguat. Tahun 2025, dolar mengalami penurunan terburuk sejak 1973. Ini bukan kebetulan. Mayoritas responden survei World Gold Council (73%) melihat kepemilikan dolar di cadangan global akan menurun secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan. Ini adalah pergeseran monumental. Selama puluhan tahun, dolar adalah raja mata uang dunia. Kini, tahta itu mulai goyah. Negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar—terutama yang berada di luar aliansi geopolitik Barat—memilih emas sebagai alternatif. Antara 2020 dan 2025, alokasi emas di cadangan bank sentral negara-negara ini meningkat dari rata-rata 8% menjadi hampir 15%. Ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Ini adalah upaya “de-dollarisasi”—mengurangi dominasi dolar dalam sistem moneter global. Dan emas adalah instrumen utama dalam proses tersebut. Inflasi yang Tak Kunjung Reda Faktor lain yang mendorong emas adalah inflasi yang persisten. Inflasi di negara-negara maju diperkirakan akan tetap di atas 2% hingga 2026 dan 2027. Ketika uang kertas kehilangan daya belinya, emas mempertahankan nilainya. Emas tidak menghasilkan bunga atau dividen. Tapi itulah kelebihannya—tidak ada janji yang bisa diingkari. Tidak ada risiko default. Tidak ada pemerintah yang bisa mencetak lebih banyak emas untuk menyelesaikan masalah fiskalnya. Pasokan emas hanya tumbuh 1-2% per tahun melalui penambangan, menciptakan kelangkaan alami yang menjaga daya beli dalam jangka panjang. Di Saat Goyah, Apa Peganganmu? Dalam dunia yang semakin tidak stabil—di mana perang bisa pecah tanpa peringatan, sanksi ekonomi bisa dikenakan dalam semalam, dan nilai mata uang bisa jatuh dalam hitungan jam—pertanyaan ini menjadi semakin relevan: apa yang benar-benar bisa Anda pegang? Emas bukan jaminan keuntungan cepat. Harganya bisa berfluktuasi. Tapi selama ribuan tahun, emas telah membuktikan dirinya sebagai penyimpan nilai yang andal di tengah kekacauan. Ketika sistem-sistem yang dibangun manusia runtuh, emas tetap berdiri. World Gold Council memperkirakan bahwa dalam kondisi ekonomi stagflasi atau resesi, emas bisa naik tambahan 10-15% pada paruh kedua 2025. Tapi bahkan tanpa proyeksi optimis itu, satu hal sudah jelas: dalam era ketidakpastian, emas bukan lagi sekadar aset. Emas adalah benteng terakhir. Jadi ketika dunia berguncang—dan sepertinya akan terus begitu—orang kembali ke emas. Bukan karena spekulasi. Bukan karena tren. Tapi karena sejarah telah mengajarkan mereka: ketika semua yang lain gagal, emas tetap bertahan. Nunomics: Solusi Emas Syariah untuk Indonesia Di tengah kegamangan global yang mendorong orang kembali ke emas, muncul pertanyaan praktis: bagaimana masyarakat Indonesia—khususnya muslim—bisa mengakses emas dengan cara yang mudah dan sesuai syariah? Nunomics hadir sebagai jawaban. Platform jaringan ekonomi digital syariah ini dibentuk atas inisiatif generasi pejuang Nahdlatul Ulama untuk meningkatkan kualitas hidup muslim Indonesia. Nunomics memungkinkan pengguna menabung emas fisik secara digital yang tersimpan di vault, terhindar dari gharar dan sesuai syariat Islam. Platform ini berizin resmi BAPPEBTI dan diawasi Kementerian Perdagangan. Yang membedakan Nunomics adalah integrasinya dengan kehidupan beragama muslim: tabungan haji dan umrah, sedekah digital melalui LAZIS terpercaya, hingga pembayaran tagihan dalam satu ekosistem. Dengan modal mulai Rp100.000, siapa pun bisa memulai—membawa akses emas ke tangan masyarakat luas. Di era ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang mendorong flight to safety, Nunomics menjembatani kebutuhan perlindungan aset dengan nilai-nilai keislaman. Ketika bank sentral

Dunia berhenti mengguanakan dollar. BRICS, De-dollarisasi, dan Emas

Perubahan Tatanan Moneter Global pada 10 tahun mendatang: Antara De-Dollarisasi, BRICS, dan Pelarian ke Emas Bertambah Kuat

Selama hampir satu abad, dolar Amerika Serikat telah menjadi raja tanpa tanding dalam panggung ekonomi global. Mata uang ini menguasai hampir 90 persen transaksi valuta asing dan 48 persen pembayaran melalui sistem SWIFT. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fondasi dominasi dolar mulai berguncang. Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia akan berhenti mengandalkan dolar, melainkan seberapa cepat pergeseran ini akan terjadi—dan apa yang akan menggantikannya. Momentum De-Dollarisasi: Dari Retorika ke Realitas Istilah “de-dollarisasi” merujuk pada pengurangan signifikan penggunaan dolar AS dalam perdagangan global dan transaksi keuangan. Tren ini bukan sekadar wacana politik, tetapi sudah menjadi strategi konkret yang diterapkan oleh berbagai negara, terutama yang tergabung dalam blok BRICS—Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Perubahan geopolitik global mempercepat proses ini. Pencabutan akses Rusia dari sistem SWIFT setelah invasi ke Ukraina, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, serta kebijakan moneter Federal Reserve yang berdampak pada pasar global, semuanya mendorong negara-negara mencari alternatif dari sistem keuangan yang didominasi Barat. Negara-negara BRICS kini berusaha meningkatkan kemandirian finansial dan mengurangi kerentanan terhadap sanksi ekonomi AS. Langkah nyata sudah terlihat. Tiongkok dan Rusia kini melakukan sebagian besar perdagangan bilateral mereka menggunakan yuan dan rubel, sepenuhnya melewati dolar. Brasil dan Tiongkok menandatangani kesepakatan penyelesaian perdagangan yuan-real pada tahun 2023. India mulai membeli minyak Rusia menggunakan rupee. Bahkan lebih dari 95 persen perdagangan antara Rusia dan Iran pada tahun 2024 diselesaikan dalam rubel dan rial. Data menunjukkan bahwa pada Maret 2024, lebih dari setengah pembayaran Tiongkok (52,9 persen) diselesaikan dalam RMB, sementara pembayaran dalam dolar AS turun menjadi 42,8 persen. BRICS: Kekuatan Ekonomi yang Tidak Dapat Diabaikan Untuk memahami potensi de-dollarisasi, kita perlu memahami dahsyatnya kekuatan ekonomi BRICS. Pada tahun 2023, ekonomi BRICS secara kolektif menyumbang lebih dari 25 persen output ekonomi global dengan 42 persen populasi dunia. Antara tahun 1990 dan 2015, pangsa ekonomi BRICS dalam output global melonjak dari 5,85 persen menjadi 21,6 persen—transformasi yang luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Secara kolektif, BRICS mengendalikan sekitar 4 triliun dolar AS dalam cadangan devisa konsolidasi dan menarik sekitar 11 persen investasi asing langsung global. Proyeksi menunjukkan bahwa ekonomi BRICS berpotensi melampaui ekonomi G7 pada tahun 2050, menandakan pergeseran fundamental dalam pusat gravitasi ekonomi global dari Barat ke Timur dan Selatan. Ekspansi BRICS menambah momentum pada narasi de-dollarisasi. Pada Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab resmi bergabung, menjadikan blok ini BRICS-10. Indonesia menyusul sebagai anggota penuh pada Januari 2025. Perluasan ini bukan sekadar simbolis—ini merepresentasikan pergeseran serius dalam keseimbangan kekuatan ekonomi global. Institusi BRICS: Fondasi Integrasi Ekonomi Telah dibangun infrastruktur institusional yang solid untuk mendukung ambisi ekonominya. New Development Bank (NDB), yang didirikan pada tahun 2015, kini memiliki kapasitas pembiayaan sebesar 32,8 miliar dolar AS dan menyediakan bantuan keuangan untuk proyek infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan, tidak hanya di negara-negara BRICS tetapi juga di ekonomi berkembang lainnya. Salah satu fitur distinktif NDB adalah pendekatannya dalam membiayai proyek menggunakan mata uang lokal. Pada tahun 2016, NDB mencairkan pinjaman perdananya senilai 811 juta dolar AS, dengan Brasil menerima 300 juta, Tiongkok 81 juta, India 250 juta, dan Afrika Selatan 180 juta dolar AS. Pendekatan pembiayaan dalam mata uang lokal ini tidak hanya mengurangi risiko nilai tukar tetapi juga memperkuat penggunaan mata uang BRICS—real Brasil, rubel Rusia, rupee India, renminbi Tiongkok, dan rand Afrika Selatan—dalam transaksi internasional, secara halus meletakkan dasar untuk kerja sama mata uang yang lebih besar di antara negara-negara anggota. Selain NDB, BRICS juga mendirikan Contingent Reserve Arrangement (CRA) dengan dana 100 miliar dolar AS, yang menyediakan mekanisme dukungan bersama untuk tekanan neraca pembayaran jangka pendek. Institusi-institusi ini menunjukkan komitmen serius BRICS terhadap stabilitas keuangan dan integrasi ekonomi yang lebih dalam. Realitas Mata Uang Bersama BRICS: Antara Ambisi dan Hambatan Di atas kertas, BRICS memiliki potensi besar untuk mengubah lanskap keuangan global melalui mata uang bersama. Pada KTT BRICS di Kazan, Oktober 2024, para anggota membahas pengembangan BRICS Pay, sistem pembayaran terdesentralisasi berbasis blockchain yang dirancang untuk menghubungkan sistem keuangan negara-negara anggota menggunakan mata uang digital bank sentral (CBDC). Namun, implementasi nyata jauh lebih kompleks daripada retorika. Pada KTT BRICS di Rio de Janeiro pada Juli 2025, tidak ada kemajuan konkret menuju de-dollarisasi yang serius. Deklarasi akhir tidak menyebut penciptaan mata uang bersama atau strategi terkoordinasi untuk mengurangi penggunaan dolar. Yang sebenarnya terjadi jauh lebih sederhana: penyelesaian sebagian perdagangan dalam mata uang lokal untuk mengurangi biaya dan mengurangi ketergantungan pada dolar untuk transaksi tertentu. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva sempat menjadi pendukung vokal mata uang bersama BRICS pada KTT 2023 dan 2024. Namun, setelah ancaman tarif 100-150 persen dari Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara BRICS yang mengejar de-dollarisasi, Lula secara resmi menghapus gagasan mata uang bersama dari agenda kepresidenan BRICS Brasil 2025. Bahkan Vladimir Putin, yang sebelumnya tampak mendukung prospek ini, telah meninggalkannya. Pernyataan India juga memperjelas posisinya. Menteri Luar Negeri S. Jaishankar menjelaskan, “De-dollarisasi bukan bagian dari agenda keuangan India.” India lebih memilih strategi “derisking” perdagangan melalui diversifikasi mitra dan sistem pembayaran alternatif, bukan kemerdekaan dari dolar per se. Teori Optimum Currency Area: Mengapa Mata Uang Bersama BRICS Sulit Terwujud Untuk memahami mengapa mata uang bersama BRICS menghadapi hambatan besar, kita perlu memahami teori Optimum Currency Area (OCA). Teori yang dipopulerkan oleh Robert Mundell pada tahun 1960-an ini menetapkan kriteria spesifik yang harus dipenuhi agar kelompok negara dapat mengadopsi mata uang bersama dengan sukses. Kriteria OCA meliputi: kesamaan struktur ekonomi, tingkat keterbukaan perdagangan yang tinggi, mobilitas faktor produksi, homogenitas preferensi kebijakan, dan mekanisme transfer fiskal. Ketika diterapkan pada BRICS, analisis menunjukkan kesenjangan signifikan dalam memenuhi kriteria-kriteria ini. Keragaman ekonomi BRICS sangat ekstrem—dari ekonomi berbasis komoditas seperti Rusia dan Afrika Selatan hingga ekonomi manufaktur dan jasa seperti Tiongkok dan India. Keragaman ini meluas ke indikator ekonomi seperti tingkat inflasi, pertumbuhan PDB, dan kebijakan fiskal, yang tidak tersinkronisasi di seluruh blok. Disparitas dalam tingkat perkembangan ekonomi, tingkat inflasi, dan disiplin fiskal di antara negara-negara BRICS menimbulkan hambatan signifikan terhadap realisasi mata uang bersama dalam waktu dekat. Studi empiris memperkuat temuan ini. Penelitian tahun 2019 yang meneliti Shanghai Cooperation Organization (yang mencakup beberapa anggota BRICS) menemukan respons asimetris bank sentral terhadap guncangan internal dan

Perjalanan Emas sebagai Mata uang : Pelajaran 4000 Tahun Lindungi Kekayaan yang tak pernah terinflasi

Ketika Babilonia mencetak koin emas pertama sekitar 600 SM, mereka tidak hanya menciptakan alat tukar, mereka memulai sebuah legasi yang akan bertahan lebih lama dari kerajaan mereka sendiri. Ribuan tahun kemudian, emas masih berdiri tegak, melewati kejatuhan imperium, revolusi ekonomi, dan transformasi digital yang mengubah wajah dunia. Apakah Perjalanan emas begitu berpengaruh terhadap inflasi? Perjalanan Singkat Emas Melintasi Peradaban Bayangkan tahun 1760 Sebelum Masehi—jauh sebelum teknologi digital atau bahkan sistem perbankan modern—Raja Hammurabi sedang menyusun sebuah dokumen monumental di Mesopotamia. Code of Hammurabi bukan sekadar kumpulan hukum, melainkan formalisasi pertama peran uang dalam struktur masyarakat. Ini adalah momen historis ketika manusia sepakat: ekonomi membutuhkan standar, dan standar membutuhkan kepercayaan. Dan sejak saat itu, emas telah menjadi simbol kepercayaan tersebut. Pelajaran Krusial dari Abad ke-21 Inilah yang membuat emas relevan hari ini: pelajaran keras dari krisis modern yang memvalidasi kebijaksanaan ribuan tahun. 1. Perjalanan Emas saat Krisis Keuangan 2008: Ketika Sistem Modern Runtuh Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di dunia, kolaps dalam semalam. Triliunan dolar aset menguap. Sistem perbankan yang dianggap “terlalu besar untuk gagal” ternyata rapuh. Sementara itu, emas naik 25% dalam setahun setelah krisis—melindungi mereka yang memilikinya. Pelajaran: Institusi modern bisa runtuh, tetapi emas tetap berdiri. Bank sentral dunia hingga kini masih memegang sepertiga dari seluruh emas dunia (1,140 juta ounce)—bukan tanpa alasan. Mereka tahu bahwa emas adalah “war chest” yang dapat dimanfaatkan dalam kekacauan mata uang global. 2. Pandemi COVID-19 (2020-2023): Inflasi yang Menghancurkan Daya Beli Ketika pandemi melanda, bank sentral di seluruh dunia mencetak uang dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hasilnya? Inflasi global yang menghancurkan tabungan masyarakat. Di Indonesia, inflasi mencapai 5.51% pada 2022. Di AS, inflasi menyentuh 9.1%—tertinggi dalam 40 tahun. Namun, emas bereaksi berbeda. Harga emas mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa, melampaui $2.100 per ounce. Mereka yang menyimpan kekayaan dalam emas tidak hanya terlindungi, tetapi juga melihat nilai aset mereka meningkat. Pelajaran: John Maynard Keynes pernah mengingatkan, “Melalui proses inflasi yang berkelanjutan, pemerintah dapat menyita, secara diam-diam dan tidak teramati, bagian penting dari kekayaan warganya.” Emas adalah jawaban terhadap pencurian tersembunyi ini. Ketika Rp10 juta hari ini tidak sama dengan Rp10 juta lima tahun mendatang, emas mempertahankan daya belinya. 3. Ketidakstabilan Geopolitik: Perang Dagang hingga Konflik Dari perang dagang AS-China, konflik Rusia-Ukraina, hingga ketegangan di Timur Tengah—ketidakpastian geopolitik telah mendorong investor mencari “safe haven”. Setiap kali krisis geopolitik memuncak, harga emas naik. Bukan kebetulan—ini refleksi dari kepercayaan ribuan tahun bahwa emas adalah aset teraman saat dunia bergolak. Pelajaran: Dalam dunia yang semakin tidak dapat diprediksi, emas menawarkan stabilitas yang tidak dapat dijanjikan oleh mata uang fiat atau bahkan saham teknologi. George Bernard Shaw pada 1928 menulis: “Anda harus memilih antara mempercayai stabilitas natural emas dan kejujuran serta kecerdasan anggota pemerintah. Saya menyarankan Anda memilih emas.” 4. Era Digital: Emas Bertransformasi, Bukan Tergantikan Cryptocurrency muncul dengan janji desentralisasi dan kebebasan dari kontrol pemerintah. Bitcoin disebut “digital gold”. Namun volatilitasnya yang ekstrem—bisa naik 100% atau turun 70% dalam setahun—membuktikan bahwa ia lebih seperti aset spekulatif daripada penyimpan nilai. Di sinilah evolusi terjadi: gold-backed cryptocurrency menggabungkan keunggulan teknologi blockchain dengan stabilitas emas. Platform seperti NUNOMICS.id hadir sebagai solusi yang menghubungkan dunia fisik dan digital—memungkinkan Anda memiliki, menyimpan, dan bertransaksi dengan emas melalui teknologi modern tanpa kehilangan nilai intrinsiknya. Pelajaran: Teknologi adalah alat, bukan pengganti. Emas tidak bersaing dengan Bitcoin—ia melengkapi portofolio modern sebagai fondasi yang tidak tergoyahkan. Imam al-Ghazali dan Ibn Taymiyyah mengajarkan bahwa uang adalah alat, bukan tujuan. NUNOMICS.id mewujudkan prinsip ini: teknologi sebagai medium untuk mengakses stabilitas emas. Mengapa Ini Penting untuk Anda Hari Ini? Akuntabilitas Fiskal yang Hilang: Di bawah standar emas, pemerintah menghadapi batasan fundamental—mereka harus menjalankan anggaran berimbang karena setiap lembar mata uang harus di-backing oleh emas fisik. Ludwig von Mises menyebutnya sebagai “perlindungan terhadap pemerintah yang boros.” Tapi hari ini, dengan sistem fiat money, tombol “print money” praktis tanpa batas. Butuh dana stimulus? Print. Defisit membengkak? Print lagi. Dan siapa yang membayar tagihan ini? Rakyat—melalui inflasi yang menggerogoti daya beli secara diam-diam. Uang di rekening Anda tetap terlihat sama, tapi kemampuannya membeli barang berkurang setiap tahun. Ini bukan pajak resmi, tapi efeknya sama: transfer kekayaan dari kantong Anda ke kas negara. Financial Repression:  Alan Greenspan, mantan Ketua Federal Reserve AS, pernah menulis: “Deficit spending hanyalah skema untuk penyitaan kekayaan. Emas menghalangi proses berbahaya ini.” Ya, orang yang memimpin bank sentral paling powerful mengakui bahwa sistemnya adalah mekanisme transfer kekayaan terselubung. Dari 1945 hingga 1980, suku bunga riil negatif telah merugikan pemberi pinjaman sekitar 3-4% dari PDB per tahun—transfer masif dari penabung ke peminjam (pemerintah). Kalau Anda punya tabungan dengan bunga 3% tapi inflasi riil 5%, Anda sebenarnya kehilangan 2% daya beli per tahun—terus-menerus. Emas menjadi “musuh” sistem ini karena tidak bisa dimanipulasi: pemerintah tidak bisa mencetak emas, tidak bisa menurunkan “suku bunga emas.” Emas adalah opt-out dari permainan yang sedang Anda mainkan—bahkan tanpa tahu Anda sedang bermain. Stabilitas Jangka Panjang:  Mari bicara fakta keras: Sejak 1971, dolar AS telah kehilangan lebih dari 85% daya belinya—$100 di tahun 1971 hari ini hanya bernilai sekitar $15 dalam daya beli riil. Sementara itu, emas telah naik lebih dari 5,000% dalam periode yang sama, dari $35 per ounce menjadi lebih dari $2,000. Ini bukan karena emas “naik”—yang sebenarnya terjadi adalah mata uang fiat turun, dan emas hanya mencerminkan depresiasi itu. Ini bukan tentang spekulasi atau menjadi “gold bug” fanatik—ini tentang memahami permainan yang sedang dimainkan di belakang layar dan membuat keputusan yang melindungi kerja keras Anda dari erosi nilai yang sistematis. Karena pertanyaannya bukan “Apakah emas akan naik?” tetapi “Apakah mata uang Anda akan terus turun?”—dan sejarah 50 tahun terakhir sudah menjawabnya dengan sangat jelas. Tindakan Konkret untuk Sahabat NUNOMICS Sejarah telah berbicara melalui 26 abad: dari Code of Hammurabi hingga blockchain, dari Babilonia hingga bank sentral modern. Pertanyaannya bukan lagi “apakah emas relevan?” tetapi “seberapa besar porsi emas dalam portofolio Anda?” Bank sentral global tahu jawabannya—mereka memegang rata-rata 30% total cadangan mereka dalam bentuk emas yang tidak menghasilkan bunga. Jika penjaga sistem keuangan dunia menempatkan kepercayaan pada emas, mengapa Anda tidak? Di era ketidakpastian—inflasi yang merajalela, ketegangan geopolitik, dan manipulasi

Ramai Diperbincangkan, Apakah BRICS Memiliki Pengaruh Terhadap Harga Emas?

Ramai Diperbincangkan, Apakah BRICS Memiliki Pengaruh Terhadap Harga Emas? Jakarta, MetalNews Digital – Semakin digaungkan, dedolarisasi terlihat kian menguat setelah BRICS mengambil manuver untuk menjauhkan dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di dunia. BRICS yang merupakan kelompok negara yang terdiri dari Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan menjalin kerja sama terkait pengembangan dan pengaruh dalam urusan Internal. Mengutip dari BRICS portal, Rusia adalah negara yang memprakarsai pembentukan BRICS. Pertemuan pertama kali diselenggarakan pada tanggal 20 September 2006 atas usulan Presiden Rusia Vladimir Putin pada pertemuan Sidang Majelis Umum PBB di New York. Pada pertemuan pertama ini beberapa menteri luar negeri terlibat seperti Rusia, Brasil dan China serta Menteri Pertahanan India. Dalam pertemuannya mereka menyatakan minat untuk memperluas kerja sama multilateral. Saat ini BRICS secara resmi menambah 13 negara baru ke dalam aliansi nya sebagai negara mitra (bukan anggota penuh). Hal ini disampaikan melalui unggahan yang dilakukan BRICSinfo di akun X pada Kamis (24/10/2024). Sedangkan untuk Indonesia sendiri melalui Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono menyampaikan keinginan Indonesia untuk bergabung menjadi anggota kelompok BRICS dalam pertemuan KTT BRICS Plus di Kazan, Rusia pada Kamis (24/10/2024). Melalui postingan di akun instagram pribadinya @sugiono_56 beliau menyampaikan bahwa Indonesia percaya BRICS dapat Mengedepankan hak pembangunan bagi negara berkembang, Mendukung reformasi sistem multilateral, dan Menjadi kekuatan pemersatu Global South. “Di BRICS, saya juga tegaskan pentingnya solidaritas dan komitmen untuk segera lakukan gencetan senjata & penegakan hukum internasional untuk perdamaian global, khususnya di #Palestina.” Letnan Satu Inf. (Purn.) Sugiono – Menteri Luar Negeri Indonesia. Lantas apakah BRICS berpengaruh terhadap pergerakan harga emas dunia? Perhatian terhadap KTT BRICS memberikan dorongan bagi emas, dengan adanya dukungan dari kelompok negara yang mempertimbangkan alternatif mata uang yang didukung emas sebagai respons terhadap dominasi dolar AS. Melansir dari investing.com anggota BRICS khususnya Rusia, semakin mencari cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar. Faktor ini memberikan dukungan lebih lanjut bagi kenaikan harga emas ke rekor tertinggi baru. Di sisi lain, di Amerika Serikat sendiri adanya ketidakpastian pemilu dan kemungkinan kemenangan mantan Presiden Donald Trump membuat peningkatan permintaan emas akan terjadi ketika para investor meragukan stabilitas geopolitik. Terkait kekhawatiran terhadap inflasi juga memiliki kemungkinan akan berlanjut, meskipun adanya perkiraan suku bunga menunjukan tren penurunan yang lebih lambat dari yang diantisipasi sebelumnya oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Hal ini membuat dolar menjadi semakin kuat dan disaat yang sama sedikit membatasi kenaikan lebih lanjut dari harga emas. Membahas pergerakan harga emas yang semakin hari bergerak ke arah puncak, membuat pasar terus memberikan perhatiannya. Hal ini terjadi pada fisik emas JFXGOLD X yang setiap pergerakannya terus membuat para investor kian menebak-nebak bagaimana harga kedepannya. Misalnya saja pada pembukaan perdagangannya hari ini, harga fisik emas JFXGOLD X sempat mengalami sedikit penurunan, kendati demikian hal ini tidak membuat fisik emas JFXGOLD X terlempar jauh ke belakang, tetapi justru fisik emas JFXGOLD X masih berhasil mempertahankan posisi nya yang berada di atas. Misalnya pada hari ini Senin (28/10/2024) fisik emas JFXGOLD X menempati posisi US$ 2.743,61 per troy ounce atau Rp. 1.388.627 per gram. Di tengah konflik Timur Tengah yang masih memanas, tantangan dolar semakin kuat dan imbal hasil obligasi serta harga emas terus mendapatkan dukungan dari situasi ini. Konflik yang masih berlangsung memiliki kemungkinan adanya peningkatan ketegangan lebih lanjut dengan Iran serta risiko geopolitik lainnya terus membuat investor mencari perlindungan terhadap aset yang dimilikinya. Salah satu aset yang dapat dipilih untuk menjadi lindung nilai adalah fisik emas JFXGOLD X yang transaksinya menggunakan harga pasar dunia.

Dalam Satu Minggu Harga Fisik Emas JFXGOLD X Berhasil Naik 2,85%

Jakarta, MetalNews Digital – Fisik emas JFXGOLD X kembali cetak rekor tertinggi sepanjang masa. Kali ini di tengah kondisi ketegangan yang terjadi di Timur Tengah serta adanya penantian pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS), harga emas dunia bergerak melesat hingga tembus di kisaran US$ 2.700 per troy ounce. Jika dilihat berdasarkan harga pada perdagangannya pagi ini, fisik emas JFXGOLD X hanya perlu tambahan beberapa poin untuk sampai ke posisi US$ 2.800 per troy ounce, karena pada pagi hari ini Rabu (23/10/2024) harga fisik emas JFXGOLD X menduduki posisi US$. 2.753,03 per troy ounce atau Rp. 1.383.671 per gram. Jika dibandingkan dengan harga pada perdagangan minggu kemarin, tepatnya pada hari Senin (14/10/2024) fisik emas JFXGOLD X berhasil mengalami kenaikan sebanyak 2,85% per troy ounce atau Rp. 39.812 per gram. Seperti yang diketahui bahwa harga fisik emas JFXGOLD X sejalan dengan kondisi atau pergerakan ekonomi dunia, ada pula beberapa faktor yang mempengaruhi naiknya harga fisik emas JFXGOLD X saat ini adalah peningkatan permintaan aset safe haven yang didorong dengan ketidakpastian pemilu AS dan geopolitik di Timur Tengah, serta adanya ekspektasi kelonggaran kebijakan moneter AS lebih lanjut untuk memperkuat lonjakan fisik emas. Jika melihat pada pergerakan fisik emas JFXGOLD X selama beberapa bulan terakhir ini, JFXGOLD X telah mencapai level tertingginya sepanjang masa selama beberapa kali, capaian level tertinggi ini sudah meningkat lebih dari 30% sepanjang tahun 2024. Secara keseluruhan jika dilihat berdasarkan pergerakan fisik emas JFXGOLD X yang transaksinya menggunakan harga pasar dunia, adanya tren kenaikan emas akan tetap terjaga seiring dengan ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah. Dengan situasi pasar yang tidak menentu dan kemungkinan penyesuaian lebih lanjut, harga emas akan tetap berhasil untuk menarik investor. Meskipun dipengaruhi dengan adanya dinamika geopolitik atau pergerakan nilai tukar global, namun emas memiliki potensi yang cukup kuat untuk mempertahankan posisinya sebagai lindung nilai. Dikutip dari bloombergtchnoz.com Ahli strategi komoditas ING Bank NV mengatakan “Kami percaya gambaran makro, dikombinasikan dengan permintaan safe-haven di tengah eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan perang yang sedang berlangsung di Ukraina, akan mendorong emas ke level tertinggi baru,” kata Ewa Manthey, ahli strategi komoditas di ING Bank NV. Emas kemungkinan akan berkinerja baik terlepas dari hasil pemilu AS, pungkas dia.

JFXGOLD X Bersiap Sambut Rekor US$ 3.000/Toz

Jakarta, MetalNews Digital – Kamis 17 Oktober 2024 harga fisik emas JFXGOLD X bergerak naik pada perdagangannya pagi ini. Tercatat pada pergerakan nya, pagi ini fisik emas JFXGOLD X berhasil menduduki posisi US$ 2.693.28 per troy ounce atau Rp. 1.345.619 per gram. Terjadinya kenaikan harga emas dunia pada pagi ini didorong dengan penurunan imbal hasil obligasi AS, ekspektasi bahwa bank-bank sentral utama akan menurunkan suku bunga, serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Melansir dari CNBC Indonesia, lonjakan harga emas pada perdagangan hari ini diakibatkan oleh lemahnya imbal hasil US Treasury setelah sejumlah bank sentral mengindikasikan akan memangkas suku bunga lebih lanjut. Selain bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed), bank Sentral Eropa (ECB) dan bank sentral Inggris (BoE) juga mengindikasikan pemangkasan. Dalam beberapa pekan terakhir pergerakan harga emas dunia masih mencuri perhatian pelaku pasar, emas yang menunjukan kekuatan yang signifikan dengan para investor yang terus melakukan pencarian aset yang aman di tengah ketidakpastian kondisi pasar menyebabkan emas terus diburu untuk melindungi aset yang mereka miliki. Kondisi pada emas dunia ini tentu terjadi pula pada fisik emas JFXGOLD X yang transaksinya menggunakan harga pasar dunia. Jika dilihat dalam tren perdagangannya saat ini, emas masih berada di tren naik dimana pergerakan harganya yang meskipun sempat mengalami pelemahan kian bisa kembali ke posisi normal bahkan kembali naik dalam waktu cepat. Adanya tren perdagangan emas dunia ini tentu merupakan dampak dari adanya dorongan serta ketidakpastian geopolitik yang tinggi serta proyeksi ekonomi yang tidak stabil. Dikutip dari CNBC Indonesia Peter A. Grant mengatakan “Ekspektasi pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh Federal Reserve AS pada November semakin menguat, data inflasi yang lebih lemah di Eropa dan Inggris meningkatkan harapan untuk pelonggaran ECB dan BoE yang lebih agresif, yang mengarah pada imbal hasil yang lebih rendah secara umum yang mengangkat harga emas,” kata Peter A. Grant, wakil presiden dan strategi logam senior di Zaner Metals, kepada Reuters. “Ada kemungkinan luar biasa kita bisa melihat harga mendekati $3.000, dan itu mungkin mungkin terjadi pada kuartal pertama 2025,” tambah Grant. Harga fisik emas JFXGOLD X pada hari telah mengalami kenaikan sebanyak 2,39% per troy ounce atau Rp. 19.732 per gram jika dibandingkan dengan harga pada perdagangannya minggu lalu. Meskipun dalam waktu singkat yakni 1 minggu, kenaikan harga fisik emas yang cukup signifikan ini berhasil membuktikan bahwa fisik emas sangat tepat untuk melindungi nilai ditengah kondisi inflasi yang kian menghantui. Simak update seputar fisik emas JFXGOLD X hanya di MetalNews!

Turun 6 Hari Berturut-turut, JFXGOLD X Berhenti Cetak Rekor?

Jakarta, MetalNews Digital – Harga emas dunia baru-baru ini kembali menyita perhatian investor melalui pergerakan harganya yang terus mencetak rekor. Kondisi yang membuat investor berbondong-bondong melakukan transaksi penjualan ini berhasil membawa fisik emas JFXGOLD X mengalami peningkatan lebih dari 30% pada perjalanan perdagangannya dari awal tahun sampai dengan saat ini. Sempat diperkirakan pergerakan harganya akan mencapai posisi US$ 3000 per troy ounce pada pertengahan tahun depan, tetapi hal ini tidak serta merta membuat pergerakan harganya terus mengalami peningkatan, misalnya saja pada enam hari kebelakang harga emas dunia seolah berhenti mencetak rekor melalui pergerakan harganya yang kian melemah. Kamis 10 Oktober 2024 ini harga fisik emas JFXGOLD X menduduki posisi US$ 2.630.26 per troy ounce atau Rp. 1.325.887 per gram, harga tersebut telah mengalami penurunan sebanyak 1,75% per troy ounce. Melansir dari Kitco.com, penurunan harga emas untuk enam hari berturut-turut dipicu oleh penguatan dolar dan berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih besar dari bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve pada bulan November. Adanya penguatan indeks dolar AS dan imbal hasil US Treasury berdampak negatif ke emas. Pembelian emas yang dikonversi ke dolar sehingga kenaikan dolar AS membuat emas menjadi semakin mahal untuk dibeli sehingga menyebabkan pengurangan minat yang membuat pembelian juga berkurang. “Pasar tidak bergerak karena data tenaga kerja yang luar biasa mungkin memerlukan penyesuaian oleh Federal Open Market Committee (FOMC). Itulah sebabnya emas tidak banyak bergerak dan tampaknya turun untuk sesi keenam berturut-turut, meskipun penurunannya modest,” kata Tai Wong, trader logam independen berbasis di New York, dikutip dalam CNBC Indonesia. “Dolar telah melesat dalam beberapa sesi terakhir, yang menambah tekanan turun pada emas,” tambahnya. Simak informasi selengkapnya hanya di MetalNews!

Berhasil Tempati Posisi US$. 2600/Toz, Akankah Fisik Emas JFXGOLD X Capai US$. 3000/Toz Pada Tahun Depan?

Jakarta, MetalNews Digital – Berhasil tempati posisi US$.2600 per troy ounce pada hari Jum’at (20/9/2024) pukul 17.00 WIB, Senin pagi ini (23/9/2024) harga fisik emas JFXGOLD X terus bergerak ke level atas hingga mencapai posisi US$ 2.638,95 per troy ounce atau Rp. 1.287.754 per gram. Tren naiknya harga emas dunia ini masih terjadi atas adanya dorongan kebijakan moneter global yang cenderung bergerak melonggar dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengalami peningkatan. Kenaikan harga emas yang belakangan ini masih terus terjadi dipicu dengan adanya keputusan The Federal Reserve (The Fed) untuk memotong suku bunga sebesar 50 Basis Point (Bps) pada hari Rabu minggu lalu. Pemotongan suku bunga ini merupakan potongan pertamanya sejak awal tahun 2020. Melihat pergerakan harga fisik emas JFXGOLD X selama hampir satu bulan ini, rasanya harga emas dunia masih akan terus bergerak cerah. Adanya ekspektasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) belum selesai dengan pemotongan suku bunga acuannya pada tahun ini membawa kemungkinan harga emas dunia dalam hal ini adalah fisik emas JFXGOLD X akan mengalami lonjakan pada tahun 2024. Jika dilihat berdasarkan grafik harga yang ada pada website https://jfxgoldx.jfx.co.id/login fisik emas JFXGOLD X berhasil mengalami peningkatan sebanyak 26%. “Sepertinya harga emas masih akan bergerak ke atas. Dolar AS melemah, suku bunga bergerak turun, dan ada ketidakpastian geopolitik. Ini semua membuat emas menjadi atraktif bagi investor,” kata Matt Miskin dari John Hancock Investment Management, seperti dikutip dari Bloomberg News. Dilansir dari CNBC Indonesia, Analis Citi menyatakan adanya potensi emas dunia yang akan terbang mencapai ke posisi US$ 3.000 per troy ounce pada pertengahan tahun 2025. Harga Fisik Emas JFXGOLD X Hari Ini : Adanya peningkatan pada harga fisik emas JFXGOLD X semakin memperkuat statusnya menjadi aset safe haven, hal ini lah yang menjadikan fisik emas masih menarik sebagai pilihan untuk lindung nilai suatu aset. Simak informasi seputar fisik emas JFXGOLD X hanya di MetalNews!

Dalam Waktu 5 Bulan, Fisik Emas JFXGOLD X Berhasil Naik Rp. 200.000/gram

Jakarta, MetalNews Digital – Pergerakan harga fisik emas dunia terus berubah setiap harinya, perubahan ini berjalan beriringan dengan pergerakan harga fisik emas JFXGOLD X yang transaksinya menggunakan harga fisik emas pasar dunia. Saat ini fisik emas JFXGOLD X diprediksi akan terus mengalami penguatan, meski pada pergerakan sebelumnya sempat mengalami penurunan yang membuat harga fisik emas JFXGOLD X mengalami pelemahan. Namun prediksi tersebut berhasil dibuktikan oleh fisik emas JFXGOLD X melalui peningkatan harganya pada pagi ini Selasa (20/8/2024) yang berhasil menempati posisi US$ 2.513,92 per troy ounce atau Rp. 1.251.308 per gram. Peningkatan harga fisik emas JFXGOLD X ini terjadi seiring dengan adanya ekspektasi pemotongan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan terjadi pada bulan September 2024. Dilansir dari CNBC Indonesia, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh CME FedWatch Tool menunjukan sebanyak 75,5% pelaku pasar berekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunganya sebesar 25 basis poin (bps) pada September mendatang dan hingga akhir 2024 menjadi 4,25-4,50% atau total tiga kali pemangkasan suku bunga. Tidak hanya itu, Bart Melek, Kepala strategi komoditas TD Securities menyampaikan adanya kemungkinan emas dunia akan terus naik mencapai US$ 2.700 per troy ounce dalam beberapa kuartal mendatang. Harga fisik emas JFXGOLD X pada hari ini berhasil mengalami kenaikan sebanyak 22% per troy ounce, dimana pada bulan Maret 2024 lalu, tepatnya pada hari Jum’at (1/3/2024) harga fisik emas JFXGOLD X menempati posisi US$ 2.060,12 per troy ounce atau Rp. 1.039.085 per gram. Harga tersebut berhasil membawa fisik emas JFXGOLD X naik sebanyak Rp. 212.233 per gram hanya dalam waktu 5 bulan saja. Kenaikan harga fisik emas JFXGOLD X yang transaksinya menggunakan harga fisik emas pasar dunia ini didukung juga oleh permintaan fisik emas dunia yang mengalami peningkatan terkait dengan status fisik emas sebagai aset lindung nilai di masa ketidak pastian geopolitik, seperti ketegangan di Timur Tengah. Melihat pergerakan harga fisik emas JFXGOLD X yang sangat signifikan dalam jangka waktu pendek, semakin menjelaskan bahwa fisik emas menjadi pilihan tepat sebagai aset lindung nilai.

Scroll to Top