Ketika Dunia Gelisah Karena Tragedi Geopolitik, 55% Orang Berpotensi Kembali ke Emas
Ada pola yang selalu berulang sepanjang sejarah manusia: ketika dunia berguncang karena geopolitik yang terjadi, orang mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang. Bukan janji-janji di atas kertas. Bukan angka digital di layar komputer. Melainkan sesuatu yang sudah teruji ribuan tahun—emas. Tahun 2025 membuktikan kembali pola ini. Harga emas menembus rekor demi rekor, melonjak lebih dari 50% sejak awal tahun, bahkan mencapai puncak di atas $4.300 per ons. Ini bukan sekadar tren pasar biasa. Ini adalah sinyal ketakutan global yang terterjemahkan dalam logam mulia. Perang, Geopolitik, dan Kehilangan Kepercayaan Mengapa emas? Karena ketika dunia tidak menentu, kepercayaan pada uang kertas mulai goyah. Konflik Rusia-Ukraina terus berlangsung, ketegangan di Timur Tengah meningkat, dan persaingan antara Amerika Serikat dengan China semakin tajam. Semua ini menciptakan apa yang disebut ekonom sebagai “lingkungan kaya katalis” untuk emas. Yang membuat situasi 2025 berbeda dari masa lalu adalah intensitas pembelian oleh bank sentral. Bank sentral global telah membeli lebih dari 1.000 ton emas setiap tahun sejak 2022, laju tercepat dalam sejarah modern. China, India, Turki, Kazakhstan—negara-negara ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Mereka sedang membangun benteng pertahanan ekonomi. Pembekuan cadangan mata uang Rusia oleh Barat setelah invasi Ukraina pada 2022 menjadi momen pencerahan bagi banyak negara. Mereka menyadari: jika cadangan devisa Anda bisa dibekukan dengan satu ketukan tombol, apakah itu benar-benar milik Anda? Emas tidak bisa dibekukan. Tidak bisa dihapus dari sistem. Emas adalah nyata, fisik, dan berada di bawah kontrol penuh pemiliknya. Flight to Safety: Pelarian ke Zona Aman Istilah “flight to safety” dalam bahasa ekonomi berarti perpindahan modal dari aset berisiko tinggi ke aset yang dianggap lebih aman. Ketika ketidakpastian meningkat, investor menjual saham dan obligasi berisiko, lalu membeli emas. Ini bukan spekulasi—ini survival instinct yang terstruktur dalam pasar keuangan. Yang menarik dari tahun 2025, bahkan obligasi pemerintah Amerika Serikat—yang selama lebih dari seabad dianggap sebagai aset teraman di dunia—mengalami penurunan permintaan pada bulan April. Di saat yang sama, emas justru mengalami aliran dana masuk yang luar biasa besar. Artinya? Kepercayaan terhadap sistem moneter konvensional sedang terkikis. Emas mencatat kenaikan tahunan terkuat sejak 1979, tahun ketika dunia juga bergulat dengan inflasi tinggi dan ketegangan geopolitik yang serupa. Sejarah berulang, tapi dengan aktor yang berbeda. Investor Institusi Ikut Masuk Bukan hanya negara. Investor institusi besar—dana pensiun, hedge funds, asuransi—juga meningkatkan alokasi mereka ke emas. Total kepemilikan ETF emas global naik sebesar 397 ton pada semester pertama 2025, level tertinggi sejak Agustus 2022. Ini bukan uang kecil—ini triliunan dolar yang mencari perlindungan. J.P. Morgan memperkirakan harga emas akan mencapai rata-rata $3.675 per ons pada kuartal keempat 2025 dan naik mendekati $4.000 pada pertengahan 2026. Proyeksi ini bukan spekulasi semata, melainkan berdasarkan pola permintaan struktural dari bank sentral dan investor yang terus berlanjut. Yang unik dari siklus kenaikan emas kali ini: bank sentral membeli emas tanpa mempedulikan harga. Mereka tidak trading untuk profit jangka pendek. Mereka membeli untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Ini menciptakan “lantai harga” struktural—harga tidak akan jatuh terlalu dalam karena ada pembeli tetap yang tidak pernah berhenti. Dollar Melemah, Emas Menguat Ada hubungan terbalik antara dolar Amerika dan emas. Ketika dolar melemah, emas biasanya menguat. Tahun 2025, dolar mengalami penurunan terburuk sejak 1973. Ini bukan kebetulan. Mayoritas responden survei World Gold Council (73%) melihat kepemilikan dolar di cadangan global akan menurun secara moderat atau signifikan dalam lima tahun ke depan. Ini adalah pergeseran monumental. Selama puluhan tahun, dolar adalah raja mata uang dunia. Kini, tahta itu mulai goyah. Negara-negara yang ingin mengurangi ketergantungan pada dolar—terutama yang berada di luar aliansi geopolitik Barat—memilih emas sebagai alternatif. Antara 2020 dan 2025, alokasi emas di cadangan bank sentral negara-negara ini meningkat dari rata-rata 8% menjadi hampir 15%. Ini bukan sekadar diversifikasi portofolio. Ini adalah upaya “de-dollarisasi”—mengurangi dominasi dolar dalam sistem moneter global. Dan emas adalah instrumen utama dalam proses tersebut. Inflasi yang Tak Kunjung Reda Faktor lain yang mendorong emas adalah inflasi yang persisten. Inflasi di negara-negara maju diperkirakan akan tetap di atas 2% hingga 2026 dan 2027. Ketika uang kertas kehilangan daya belinya, emas mempertahankan nilainya. Emas tidak menghasilkan bunga atau dividen. Tapi itulah kelebihannya—tidak ada janji yang bisa diingkari. Tidak ada risiko default. Tidak ada pemerintah yang bisa mencetak lebih banyak emas untuk menyelesaikan masalah fiskalnya. Pasokan emas hanya tumbuh 1-2% per tahun melalui penambangan, menciptakan kelangkaan alami yang menjaga daya beli dalam jangka panjang. Di Saat Goyah, Apa Peganganmu? Dalam dunia yang semakin tidak stabil—di mana perang bisa pecah tanpa peringatan, sanksi ekonomi bisa dikenakan dalam semalam, dan nilai mata uang bisa jatuh dalam hitungan jam—pertanyaan ini menjadi semakin relevan: apa yang benar-benar bisa Anda pegang? Emas bukan jaminan keuntungan cepat. Harganya bisa berfluktuasi. Tapi selama ribuan tahun, emas telah membuktikan dirinya sebagai penyimpan nilai yang andal di tengah kekacauan. Ketika sistem-sistem yang dibangun manusia runtuh, emas tetap berdiri. World Gold Council memperkirakan bahwa dalam kondisi ekonomi stagflasi atau resesi, emas bisa naik tambahan 10-15% pada paruh kedua 2025. Tapi bahkan tanpa proyeksi optimis itu, satu hal sudah jelas: dalam era ketidakpastian, emas bukan lagi sekadar aset. Emas adalah benteng terakhir. Jadi ketika dunia berguncang—dan sepertinya akan terus begitu—orang kembali ke emas. Bukan karena spekulasi. Bukan karena tren. Tapi karena sejarah telah mengajarkan mereka: ketika semua yang lain gagal, emas tetap bertahan. Nunomics: Solusi Emas Syariah untuk Indonesia Di tengah kegamangan global yang mendorong orang kembali ke emas, muncul pertanyaan praktis: bagaimana masyarakat Indonesia—khususnya muslim—bisa mengakses emas dengan cara yang mudah dan sesuai syariah? Nunomics hadir sebagai jawaban. Platform jaringan ekonomi digital syariah ini dibentuk atas inisiatif generasi pejuang Nahdlatul Ulama untuk meningkatkan kualitas hidup muslim Indonesia. Nunomics memungkinkan pengguna menabung emas fisik secara digital yang tersimpan di vault, terhindar dari gharar dan sesuai syariat Islam. Platform ini berizin resmi BAPPEBTI dan diawasi Kementerian Perdagangan. Yang membedakan Nunomics adalah integrasinya dengan kehidupan beragama muslim: tabungan haji dan umrah, sedekah digital melalui LAZIS terpercaya, hingga pembayaran tagihan dalam satu ekosistem. Dengan modal mulai Rp100.000, siapa pun bisa memulai—membawa akses emas ke tangan masyarakat luas. Di era ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang mendorong flight to safety, Nunomics menjembatani kebutuhan perlindungan aset dengan nilai-nilai keislaman. Ketika bank sentral








